BAB II
PEMBAHASAN
A. Problema Guru Pendidikan Agama Islam di Era Global
1. Term Guru Agama; Tantangan profesi
Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan
seni berkembang dengan pesat sehingga menimbulkan berbagai permasalahan yang
tumit dan kompleks, serta memerlukan pemecahan secara proporsional. Hal
tersebut telah memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap bebagai bidang
kehidupan termasuk dalam bidang pendidikan. Dalam hal pendidikan, guru memiliki
posisi sentral, karena memiliki berbagai keterbatasan, guru sering kali
menghadapi kesulitan. Di sini diperlukan pembinaan terhadap guru dan personil
pendidikan lainnya yang lebih intens untuk meningkatkan kinerja dan kompetensi
profesinya ke arah yang lebih profesional.
Di lihat dari sudut etimologi, term
profesional berasal dari kata sifat yang berarti pencaharian, dan sebagai kata
benda bermakna orang yang mempunyai keahlian seperti guru, dokter, hakim dan
sebagainya. Dengan kata lain pekerjaaan yang bersifat profesional adalah
pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh orang yang khusus dipersiapkan untuk
itu. Untuk meningkatkan profesionalisme guru, maka sangat diperlukan guru yang
memiliki kinerja bagus dan mumpuni. Kinerja berarti sesuatu yang dicapai,
perstasi yang diperlihatkan, atau kemampuan kerja.
Hoy dan Miskell yang mengutip pendapat Vroom,
menyatakan bahwa ‘performance
(ability x motivation)’. Dengan kata lain performance atau
kinerja ditentukan oleh :
a. kemampuan yang diperoleh dari hasil pendidikan, pelatihan, dan pengalaman,
b. motivasi yang merupakan perhatian khusus dari hasrat seorang pegawai dalam
melakukan suatu pekerjaan yang baik
Kemudian Robert Kreitner dan Angelo Kinichi
mengemukakan bahwa kinerja tergantung pada pengaturan kemampuan (ability),
upaya (effort) dan keterampilan (skill).
Dari beberapa pandangan mengenai definisi
kinerja diatas dapaat dipahami kinerja guru adalah seperangkat prilaku nyata
yang ditunjukkan guru pada waktu dia memberikan pelajaran kepada siswanya.
Kinerja guru dapat dilihat saat melaksanakan interaksi belajar mengajar dikelas
termasuk bagaimana dia mempersiapkannya. Kinerja guru dapat dinilai dari aspek
kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru, yang dikenal dengan
istilah “kompetensi guru” yang meliputi hal-hal sebagai berikut : guru wajib
memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani
dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan
nasional, kualifikasi akademik yang diperoleh melalui pendidikan tinggi program
sarjana. Sedangkan kompetensi guru meliputi :
1. kompetensi paedagogik,
2. kompetensi kepribadian,
3. kompetensi sosial, dan
4. kompetensi profesional.
Guru agama harus memiliki etos kerja yang
tinggi dan profesional. Keprofesionalan itu tidak hanya berorientasi pada
peningkatan kualitas dimensi personal dan sosial, tetapi juga perlu adanya
keseimbangan dengan peningkatan kualitas dimensi intelektual dan
keprofesionalannya. Kerena itu, perlu adanya keseimbangan antara orientasi
pendidikan agama yang menuntut kesalehan individu dan sosial dengan kesalehan
intelektual dan profesional.
Menarik untuk dicermati, pandangan Muhaimin,
ada beberapa karakteristik yang menandai kesalehan intelektual dan profesional
guru.
1. Memiliki kepribadian yang matang dan berkembang.
2. Menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi ( bidang keahliannya ) serta
wawasan pengembangannya, karena seorang guru yang dapat memberi inspirasi siswa
nya tentang ilmu pengetahuan haruslah menguasai ilmu pengetahuan itu sendiri
dan tidak boleh setengah-setengah.
3. Menguasai keterampilan untuk membangkitkan minat siswa kepada ilmu
pengetahuan.
4. Siap untuk mengembangkan profesi yang berkesinambungan[1].
2. Guru Agama Dalam Tantangan Global
Joseph Stiglitz mendefinisikan globalisasi
sebagai “integrasi lebih dekat antara negara dan penduduk dunia ... melalui
cara... penghancuran batas artifisial untuk arus barang, jasa, modal,
pengetahuan dan penduduk secara lintas batas”.
Pendidikan
lokal pada semua tingkat masih jauh dari standar kompetitis global; termasuk
indonesia. Pada tahun 2005 ada sekitar 10.854.254 lulusan pendidikan yang
sekarang masih menganggur. Jumlah ini adalah lulusan sarjana dan diploma,
termasuk lulusan SMA yang berasal dari pendidikan lokal. Para analisis menyebut
ini masalah nasional karena rendahnya kemampuan guru dan kualitas belajar di
Indonesia.
Keahlian
dasar sangat dibutuhkan dipasar tenaga kerja Indonesia dan ekonomi global
membutuhkan keahlian berpikir kritis, keahlian memecahkan persoalan, berpikir
dalam gambaran besar, keahlian komunikasi, dan sebuah sikap terus belajar
seumur hidup – utlub al-‘Ilma min al-Mahdi ila al-Lahdi.
Para
guru agama juga seharusnya menggunakan riset internet, untuk memperbarui bahan
pengajaran, dan menemukan metode cara mengajar yang lebih baik dari seluruh
lembaga dibelahan dunia. Dengan jalan ini, para guru agama tidak harus
tergantung pada pelatihan yang diadakan negara, namun dapat memperbaiki dan
meningkatkan kemampuan diri secara otonom[2].
B. Prospek dan Tantangan Pendidikan Islam
Sebagai agent of social change, pendidikan
Islam dituntut untuk mampu memainkan peran secara dinamis dan proaktif.
Diantara belitan berbagai persoalan besar, ia dihadapkan pula pada berbagai
tantangan dan prospek ke depan. Pengembangan wawasan intelektual yang kreatif
dan dinamis diberbagai bidang dalam Islam merupakan kata kunci yang harus
dipercepat prosesnya, baik pada tataran teoritis maupun praktis.
Berbicara tentang pendidikan Islam atau
pendidikan yang berada di negara-negara Muslim pada abad XXI- meskipun berbagai
kasus pengecualian, maka akan dijumpai polarisasi baik dari aspek epistemologi,
ontologi, maupun aksiologinya masih menjadi bahan kajian dikalangan para ahli
pendidika Islam.
Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab
munculnya silang pemikiran tersebut.
a. Pendapat yang mengatakan bahwa pendidikan Islam yang sekarang dikembangkan
cenderung diadopsi dari barat. Kalaupun
muncul gagasan baru yang lahir dari pemikir-pemikir Muslim, hal tersebut
dianggap hanya bersifat tambal sulam. Dengan kata lain, melepaskan diri dari
penagruh barat adalah suatu hal yang impossible. Harus diakui bahwa sebagian
besar negara Islam masih merupakan negara miskin dan berkembang yang saat ini
masih jauh tertinggal dari kemajuan yang dicapai oleh negara-negara Barat.
b. Karya-karya klasik pada masa kejayaan Islam yang merupakan representasi
pemikiran pendidikan Islam yang komprehensif cukup jarang dijumpai.
c. Pendidikan baru yang telah diadopsi dari kehidupan Barat dengan latar
belakang kultural, struktur internal dan konsistensinya sendiri[3].
1. Problem Utama
Beberapa problem utama yang mewarnai dunia
pendidikan Islam pada umumnya dapat dikalsifikasikan dalam lima hal. Jiak
dianalisis, maka dapat disimpulkan bahwa problem-problem tersebut merupakan
rangkaian yang saling terkait. Persoalan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Dichotomy
Dalam mentransformasikan nilai-nilai Islami
pada umumnya memang bukan tanggung jawab pendidikan Islam saja, tapi pendidikan
umum pun berperan dalam pembentukan pribadi anak yang bermoral, sehingga ada
suatu integrasi antara pendidikan Islam dan pendidikan umum. Persoalannya,
bagaimana kita mampu mengintegrasikan, mempertemukan, dan memadukan program
pendidikan agama dan pendidikan umum dalam kurikulum, dan pada prektik
pendidikan sehari-hari disekolah, apalagi melihat kenyataan bahwa pendidikan
Agama hanya diajarkan 2 jam dalam seminggu disekolah-sekolah umum. Ini
merupakan suatu yang sangat dilematis dalam upaya besar “mencetak” siswa yang bermoral—alih-alih
tawuran antar pelajar yang terjadi, bahkan lebih jauh mencetak intelektual tapi
tidak bermoral, pandai tapi tidak punya nurani, berkuasa tapi tidak berperasaan
dan perbuatan anti sosial lainnya. Hal demikian diperparah lagi oleh
kecenderungan materi pelajaran kita lebih menekankan kecerdasan intelektual
pada proporsi yang lebih besar ketimbang kecerdasan emosional. Padahal seperti
yang diungkapkan oleh Lawrence E.Shapiro emotional intelligence ini
sangat penting untuk dikembangkan kepada anak. Kecerdasan emosional ini
meliputi empati, mengungkapkan dan memahami perasaan, mengendalikan amarah,
kemandirian, kemampuan menyesuaikan diri, disukai, kemampuan memecahkan masalah
antar pribadi, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan dan sikap hormat.
Ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum adalah
alat yang diberikan manusia untuk mengetahui dan mengenal rahasia-rahasia alam
ciptaan Tuhan yang dengan itu pula mereka bisa memanfaatkan dan menikmatinya,
dan dengan itu pula mereka bisa memeliharanya dengan sebaik-baiknya sebagai
khalifah Allah dimuka bumi ini.
b. To
General Knowledge
Kelemahan
dunia Pendidikan Islam berikutnya adalah sifat ilmu pengetahuannya yang masih
terlalu general/umum dan kurang memperhatikan kepada upaya penyelesaian masalah
(problem-solving). Produk-produk yang dihasilkan cenderung kurang
membumi dan kurang selaras dengan dinamika masyarakat. Syed Hussein Alatas
menyatakan bahwa, kemampuan untuk mengatasi berbagai permasalahan,
mendefinisikan, menganalisis dan selanjutnya mencari jalan keluar/pemecahan
masalah tersebut merupakan karakter dan sesuatu yang mendasar kualitas sebuah
intlektual. Ia menambahkan, ciri terpenting yang membedakan dengan
non-intelektual adalah tidak adanya kemampuan untuk berpikir dan tidakmampu
untuk melihat konsekuensinya.
Sebuah artikel tentang Kesepakatan Penyatuan Budaya Arab yang
ditandatangani tahun 1964 mendefinisikan tujuan umum pendidikan moderen Arab
sebagai berikut:
Penciptaan generasi-generasi Arab yang percaya
kepada Tuhan, loyalkepada tanah air Arab, memiliki keyakinan yang kuat kepada
diri dan bangsa sendiri, sadar akan tanggung jawabnya terhadap bangsa dan
kemanusiaan…..membekali diri dengan sains dan moral, juga membagi kemakmuran
terhadap masyarakat Arab dengan tetap menjaga posisi kejayaan Arab, menjaga
hak-hak dan kemerdekaan, keamanan dan menghargai kehidupan
Menurut Tibawi tujuan terssebut terkesan lebih
bersifat ideal daripada
praktis,
dan lebih berorientasi kepada kepentingan nasional/bangsa daripada kemanfaatan
bagi warga negara secara individual. Tidak ada penjelasan dan filsafat yang komperhensif sejauh ini,
yang diformulasikan baik pada tahapan yang bersifat umum maupun yang dipandang
khusus dalam pendidikan. There is still a great deal of generalization.
c. Memorisasi
Rahman menggambarkan bahwa, kemerosotan secara gradual dari standar-standar
akademis yang berlangsung selama berabad-abad tentu terletak pada kenyataan
bahwa, karena jumlah buku-buku yang tertera dalam kurikulum sedikit sekai, maka
waktu yang diperlukan untuk belajar juga terlalu singkat bagi siswa siswa untuk
dapat menguasai materi-materi yang seringkali sulit untuk dimengerti, tentang
aspek-aspek tinggi ilmu keagamaan pada usia yang relatif muda dan belum matang.
Hal ini pada gilirannya mrnjadikan belajar lebih banyak bersifat studi
tekstual dari pada pemahaman pelajaran yang
bersangkutan. Hal ini menimbulkan dorongan untuk belajar dengan sistem hafalan
(memorizing)
daripada pemahaman yang sebenarnya. Kenyataan menunjukkan bahwa abad-abad
Pertengahan yang akhir hanya menghasilkan sejumlah besar karya-karya komentar
dan bukan karya-karya yang pada dasarnya orisinal. Fenomena ini berkembang
secara fundamental dari kebiasaan-kebiasaan berkonsentrasi pada buku dan
bukunya pada pelajaran. Bisa dipastikan bahwa
banyak pemikiran yang asli dan seringkali juga memiliki kadar orisinalitas
besar terdapat pada karya komentar-komentar tersebut, tetapi orisinalitas yang
mendasar dalam suatu subyek adalah relatif jarang.
d. Certificate
Oriented
Di
antara semua umat atau masyarakat, orang-orang Islam memiliki kenukan dalam
mengembangkan sains (‘ilm) terhadap penyebarluasan tradisi keagamaan (hadit).
Bagi Muslim yang saleh ilmu hadith telah menjadi ilmu yang par
excelence. Hal tersebut menjadi sesuatu yang mendasari tugas bagi mereka
yang disebut ilmuwan, dalam merespon salah satu hadith Nabi yang cukup kondang:
“Carilah ilmu walaupun sampai ke negri Cina”, menempuh perjalanan jauh dan
melelahkan hingga ke luar wilayah kekhalifahan. Perjalanan-perjalanan tersebut
(al-rihlah fi talab al’ilm) memiliki derajat yang tinggi di antara perbuatan-perbuatan
yang saleh; barang siapa yang mati dalam perjalanan mencari ilmu adalah seperti
mereka yang mati (sahid) di medan perang suci. Semangat inilah
yang menjadi pola yang diterapkan dan dikembangkan pada masa-masa awal Islam
dalam pencarian, pengumpulan dan penyeleksian Hadith menjad suatu
disiplin yang memenuhi kriteria-kriteria ilmiah. Hitti menyebutnya sebagai
“keunikan” yang belum dijumpai dalam masyarakat lain semasanya.
Potret
di hampir seluruh universitas Islam di Arab dan Afrika menurut Tibi bahwa, para
mahasiswa yang telah menyelesaikan studi dengan metode rote-learning dibekali
dengan sebuah sertifikat/ijazah tetapi bukan dengan “kualitas substansial”,
yang dapat di terapkan atau dimanfaatkan dalam proses pembangunan. Belajar,
oleh kebanyakan orang dianggap hanyalah alasan pemenuhan kebutuhan perut (a
bread winning ticket) atau ticket untuk masuk ke posisi-posisi yang lebih
baik. Dalam perbincangan dengan otoritas akademik di berbagai negara Muslim dan
berkembang lainnya, pada tuntutan akademik terhadap disiplin/lapangan mereka
sesuai dengan jenjang akademik yang diperolehnya, dan yang terpenting lagi,
terhadap universitas-universitas dari mana mereka berasal.
2.
Tantangan dan
Prospek
a.
Tantangan
Pendidikan
diyakini merupakan salah satu agen perubahan sosial. Pada satu segi pendidikan
dipandang sebagai suatu variabel moderenisasi atau pembangunan. Tanpa
pendidikan yang memadai, akan sulit bagi masyarakat mana pun untuk mencapai
kemajuan. Karena itu banyak ahli pendidikan yang berpandangan bahwa “pendidikan
merupakan kunci yang membuka pintu kearah moderenisasi”. Tetapi pada segi lain,
pendidikan sering dianggap sebagai obyek moderenisasi atau pembangunan. Dalam
konteks ini, pendidikan di negara-negara yang telah menjalankan program moderenisasi
pada umunya di pandang masih terbelakang dalam berbagai hal, dan karena itu
sulit diharapkan bisa memenuhi dan mendukung program pembangunan. Karena itu
program pendidikan harus diperbaharui, dibangun kembali atau dimoderenisasi
sehingga dapat memenuhi harapan dan fungsi yang dipikulkan kepadanya.
Rahman menarik
satu benang merah dari pandangan 5 tokoh Muslim yaitu; Sayyid Akhmad Khan,
Sayyid Amir ‘Ali, Jamaludin al-Afghani, Namik Kemal dan Muhammad Abduh,
terdapat krisis yang melanda dunia pendidikan Islam. Bagian-bagian integral
dari penalaran mereka adalah (1) bahwa tumbuh suburnya perkembangan sains dan
semangat ilmiah dari abad kesembilan hingga kesepuluh di kalangan kaum muslimin
adalah buah dari usaha memenuhi seruan Al-Qur’an agar manusia mengkaji alam
semeta hasil karya Tuhan, yang menciptakan baginya; (2) bahwa pada abad-abad
pertengahan yang akhir semangat penyelidikan ilmiah telah merosot dan karenanya
masyarakat Muslim mengalami kemandegan dan kemerosotan; (3) bahwa Barat telah
mengalahkkan kajian-kajian ilmiah yang sebagian besarnya telah dipinjamnya dari
kaum Muslimin dan karenanya mereka mencapai kemakmuran, bahkan selanjutnya
menjajah negeri-negeri Muslim; dan (4) bahwa karena kaum Muslimin, dalam
mempelajari kembali sains barat yang telah berkembang, berarti menemukan
kembali perintah Al-Qur’an yang telah terabaikan. Pandangan ini nampaknya dapat
direkomendasikan menjadi semangat utama untuk mengejar ketertinggalan kaum
Muslimin.
Hal terpenting
dan paling mendesak dari sudut pandang ini adalah “melepaskan kaitan” secara
mental dengan bangsa Barat serta menanamkan suatu sikap yang
independent namun penuh pengertian terhadapnya, sebagai terhadap
peradaban-peradaban lain, meskipun lebih dikhususkan kepada barat karena ia
merupakan sumber dari banyak perubahan sosial di seluruh dunia. Selama kaum
Muslimin tetapi terbelenggu kepada Barat secara mental, bagaimanapun mereka
tidak akan mampu untuk bertindak secara independent dan otonom.
Pokok
permasalahan dari seluruh masalah ”moderenisasi” pendidikan, yang diharapkan
mampu menjadi agen perubahan sosial (agent of social change), adalah
membuatnya mampu mencetak produktivitas intelektual yang kreatif dan dinamis
dalam semua bidang usaha intelektual yang terintegrasi dengan Islam.
Sikap anti
barat yang berlebihan dan tidak realistis justru menggiring dunia pendidikan
Islam mengalami kemerosotan. Sikaptersebut terimplementasi ke dalam penolakan
ilmu-ilmu “sekuler” yang disinyalir merupakan produk Barat, sehingga dari
sinilah pangkal tolak munculnya dikhotomi. Berpangkaldari dikhotomi
inilahmasalah terus bergulir bagaikan ‘bola salju’ yang kian lama
kian membesar. Ilmu-ilmu “sekuler” berikut perlengkapan-perlengkapan ilmiahnya
seperti; penyelidikan, pengenalan, difinisi masalah, analisa dan diikuti dengan
problem-solving-nya,
didepak dari struktur intelektual Muslim. Kondisi tersebut masih
diperparah dengan tradisi role-learning yang mengakar kuat di
kalangan intelektual Muslim, yang ternyata mandul dalam menghasilkan output
yang memiliki “kualifikasi substansial”, dan lebih memiliki kecenderungan
berorientasi pada sertifikat/ijazah.
Upaya lain yang
tidakkalah penting untuk mendapatkan penanganan serius adalah pembrnahan
lembaga-lembaga pendidikan Islam. Problem yang menyelimuti dunia pendidikan
Islam adalah kesenjangan di antara jenjang pendidikan. Higher
Education biasanya berdirisebagai menara gading. Baik infra maupun
supra struktur bagi Pendidikan Tinggi sering kali tidak memadai.
Pendidikan di tingkat dasar dan menengah kurang atau tidak mampu menyediakan
calon-calon mahasiswa yang memenuhi standar kualifikasi yang diharapkan, untuk
menempuh studi di perguruan tinggi. Dan kasus lainnya, bagi para mahasiswa baik
dari negeri Muslim atau berkembang lainnya yang menamatkan pendidikan di luar
negeri, seringkali tidak dapat diakomodir sekembali ke tanah airnya. Supra struktur,
dalam hal ini lapangan pekerjaan maupun untuk pengembangan keilmuan yang telah
mereka dapatkan seringkali menemui kesulitan, mereka mengalami stock
culture atau bahkan alienisasi. Inilah pekerjaan rumah bagi
pendidikan Islam untuk membenahi kelembagaannya, dengan satu pendekatan bahwa
pwmbwnahan itu tidak bisa di lakukan secara sepenggal-sepenggal[4].
Oleh karena itu
perjalanan bangsa kedepan akan menghadapi bebragai tantangan yang bukan berupa
tantangan ekonomi, tetapi juga tanatangan social dan budaya. Adapun
tantangan-tantangan tersebut adalah :
1. Tantangan untuk
menguasai dan mengembangkan teknologi
Teknologi
merupakan factor yang sangat menentukan daya saing bangsa, karena teknologi
menentukan kualitas, produktivitas, dan efisiensi. Teknologi berkembang sejalan
dengan perkembangan ilmu pengetahuan, sehingga seringkali keduanya dilafalkan
dalam satu nafas yakni ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Tingkat
penguasaan iptek menentukan perbedaan dalam taraf kemajuan dan peradaban
bangsa-bangsa di dunia.
2. Tantangan
menghadapi arus informasi dalam globalisasi
Kemajuan
teknologi yang semakin pesat berkembang dalam era globalisasi membuat dunia
menjadi semakin terbuka dan memungkinkan derasnya rus pertukaran informasi
melalui berbagai media seperti televisi dan internet dalam komputer atau
handphone canggih di genggaman kita. Informasi dari berbagai penjuru dunia,
baik yang positif maupun negatif, telah menembus bats-bats negara, bahkan menembus
dinding-dinding rumah tangga dan keluarga kita.
Tidak
semua informasi yang masuk itu sesuai dengan ilai-nilai agama dan norma-norma
budaya kita, bahkan tidak mustahil banyak yang membahayakan dan mnegancam
budaya dan kepribadian luhur bangsa. Ada gejala umum sebagai dampak negatif
globalisai yang harus kita waspadai.
Demoralisasi,
materialisasi, konsumerisme dan hedonisme serta egoisme dan individualisme
makin menggejala bersamaan dengan melemahnya tanggung jawab dan kesetiakawanan
social. Semuanya jelas bertentangan dengan moral, agama, dan nilai-nilai budaya
bangsa. Sebagian remaja dan pelajr saat ini teah terjangkiti pula oleh perilaku
yang menyimpang dan bertentangan dengan nilai-nilai moral yang berkelanjutan
dan meluas akan sangat mengancam masa depan bangsa yang kita cintai.
3. Tantangan
menyiasati modernisasi
Proses
modernisasi yang paling mendasar adalah modernisasi budaya. Dalam proses ini
berlangsung pengenalan dan penyerapan nilai-nilai luar yang bersenyawa dengan
nilai-nilai tradisional dan menciptakan nilai-nilai baru.
Dengan
kondisi budaya masyarakat Indonesia yang begitu beragam proses pembentukan
nilai-nilai baru itu tidak berjalan secara sederhana. Sebagian masyarakat kita
sudah berada pada era informasi, tetapi sebagian besar lagi masih hidup dalam
tahap yang masih terbelakang. Secara budaya, bangsa Indonesia juga adalah
bangsa yang majemuk dengan beragam suku, bahsa, adat-istiadat, dan agama.
Kemajemukan itu disatu sisi merupakan kekayaan bangsa yang tidak ternilai dan
merupakan sumber kekuatan bagi kehidupan bangsa, di sisi lain kemajemukan itu
juga dapat menjadi potensi kerawanan yang memungkinkan timbulnya perpecahan.
Dalam
keadaan demikian, proses perubahan nilai akan menimbulan benturan-benturan dan
goncangan-goncangan, bukan saja antara nilai-nilai luar dan nilai-nilai
tradisional, tetapi juga antara nilai-nilai yang hidup dalma masyarakat kita
sendidiri. Semuanya itu merupakan tantangan yang tidak dapat dihindari dan
harus kita atsai dengan pendekatan yang tepat.
4. Tantangan untuk
mengatasi kesenjangan
Pembangunan
yang telah dilaksanakan selama ini, selain menghasilkan kemajuan, namun masih
menyisakan kesenjangan baik anatar kelompok ekonomi, antar daerah dan antar
sektor. Dalam era yang makin terbuka dan bebas, potensi kesenjangan akan
semakin besar, karena kemampuan untuk memanfaatkan peluang tidaklah sama,
bahkan masih banyak masyarakat yangberkemampuan rendah karena rendahnya tingkat
pendidikan. Kesenjangan ekonomi yang ditunjukkan dengan tingkat kesejahteraan
yangjauh berbeda antar satu kelompok dengan kelompok yang lain dapat memicu
terjadinya konflik social. Oleh karena keberpihakan kepada yang lemah harus
senantiasa ditumbuhkan. Agama Islam yang berprinsip pada keadilan social
mengajarkan hal tersebut. Bahkan menggolongkan seseorang yang tidak
memperhatikan dan membantu yang lemah sebagai orang yang mendustakan agama[5].
Muhaimin, et. al. (2001) menyebutkan tantangan-tantangan yang dihadapi pendidikan
agama "slam, yang se!ara internal meliputi orientasi pendidikan yang kurang tepat, pemahaman terhadap ajaran "slam secara sempit, perancangan dan penyusunan
materi yang kurang tepat, metodologi dan elaluasi
pendidikan yangkurang memadai, dan penyelenggaraan pendidikan yang eksklusif
dan belum mampu berinteraksi dengan yang lain. Sedangkan se!ara eksternal
berupa berbagai kemajuan" ptek yang memunculkan kritisisme ilmiah terhadap
penjelasan ajaran agama,globalisasi, dan kemajemukan masyarakat beragama yang belum siap terhadap perbedaan
paham[6].
b.
Prospek
Kaum muslimin
merupakan komunitas terbesar kedua yang ada di bumi ini. Tentu merupakan sebuah
potensi yang sangat besar bila hal ini mampu digarap dengan baik, dari segi
kualitas mauoun kuantitasnya. Lebih dari itu, jika dilihat, sebagian besar
negara Muslim merupakan negara yang memiliki potensi alam yang sangat kaya.
Sehingga dua potensi, yaitu sumber daya manusia dan sumberdaya alam, jika mampu
dipadukan secara simultan, maka akan menjadi sebuah kekuatan besar di dunia
ini.
Semakin terbukanya cakrawala pemikiran di antara sebagian intelektual
Muslim, salah satunya ditandai dengan semakin banyaknya pelajar/sarjana Muslim
yang belajar di Barat, merupakan angin segar bagi upaya menemukan kejayaan masa
lalu yang hilang.
Satu hal lagi
yang perlu disorot adalah gerakan-gerakan negara Islam seperti OKI atau Liga
Arab, jika mampu mengoptimalisasi peran, khususnya pencerahan dalam bidang
pendidikan, akan memberikan kontribusi dan dampak yang cukup signifikan bagi
masyarakat Islam dunia
c.
Permasalahan klise pendidikan islam
Di kalangan umat
Islam, masalah pendidikan mendapat perhatian khusus, karena berkembangnya Islam
sendiri tidak lepas dari peran pendidikan yang begitu besar. Oleh karena itu
walaupun perkembangan politik suatu negara (Islam) sedang tidak menentu, atau
singkatnya adanya perkembangan yang menutup ruang partisipasi masyarakat dalam
menentukan arah negaranya, maka bagi dunia pendidikan tetap saja terbuka. Hal
ini bisa dilihat dari antusiasme masyarakat terhadap pentingnya pendidikan yang
mendorong munculnya berbagai lembaga-lembaga pendidikan yang menawarkan
berbagai jenjang. Ini merupakan pandangan profetis masyarakat khususnya kaum
muslimin dalam merencanakan masa depannya menjadi lebih baik.
Pandangan positif masyarakat tersebut di atas akan menjadi sia-sia jika tanpa didukung oleh pembaharuan di bidang pendidikan itu sendiri, dalam hal ini pendidikan Islam. Pendidikan Islam khususnya madrasah masih belum menunjukan perkembangan pembaharuan yang memuaskan. Madrasah ternyata masih kalah bersaing dengan sekolah-sekolah umum yang berada dalam naungan Departemen Pendidikan Nasional.
Pandangan positif masyarakat tersebut di atas akan menjadi sia-sia jika tanpa didukung oleh pembaharuan di bidang pendidikan itu sendiri, dalam hal ini pendidikan Islam. Pendidikan Islam khususnya madrasah masih belum menunjukan perkembangan pembaharuan yang memuaskan. Madrasah ternyata masih kalah bersaing dengan sekolah-sekolah umum yang berada dalam naungan Departemen Pendidikan Nasional.
Sejalan dengan perkembangan Indonesia, madrasah sebagai lembaga pendidikan
Islam juga terus berkembang namun perkembangan itu cukup eksklusif, di mana
aksentuasi pada pengetahuan keagamaan (Islam) lebih diutamakan. Hal ini juga
yang menyebabkan perkembangan madrasah hanya ada pada kantong-kantong
masyarakat Islam. Ekspansi yang dilakukan pun hanya berkisar di daerah pedesaan
sedangkan untuk di perkotaan sangat jarang. Oleh karena itu hingga saat ini
keberadaan madrasah lebih banyak di pedesaan daripada di perkotaan. Dan hal ini
juga yang memicu lambannya perkembangan madrasah, madrasah seakan jauh dari
atmosfir pembaharuan sistem pendidikan, baik secara kelembagaan maupun sistem
dari proses pembelajaran itu sendiri[7].
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sebagai agen perubahan sosial,
Pendidikan Islam yang berbeda dalam atmosfer Moderenisasi dan Globalisasi
dewasa ini dituntut untuk mampu memainkan perannya secara dinamis dan proaktif.
Kehadirannya diharapkan mampu membawa perubahan dan kontribusi yang berarti
bagi perubahan unmat Islam, baik pada daratan intelektual teoritis maupun
praktis. Adalah bukan sikap yang tetap mebiarkan diri tertidur lelap, menutup
mata atau mengisolir diri terhadap hiruk pikuknya perubahan sosial yang tengah
berlangsung, dan tidak mau mengambil bagian daripadanya.
Solusi pokok yang ditawarkan Rahman,
sebagaimana telah dikutip dimuka adalah; Pengembangan wawasan intelektual yang
kreatif dan dinamis dalam sinaran dan terintegrasi dengan Islam harus segera
dipercepat prosesnya. Dendam lama yang terus dilanggengkan serta penolakan
kultur terhadap Barat secara membabi-buta bukanlah sikap yang arif. Hal
tersebut hanya akan menjadi bumerang bagi pengembangan intelektual Islam. Di sinilah
“sikap mental” kalangan intelektual Muslim perlu di kaji dan ditata kembali.
Sikap ini bisa dikatakan cukup moderat dan cukup acceptable di kalangan
Muslim.
Sedang solusi pokok yang dilontarkan oleh Tibi adalah secularization,
yaitu industrialisasi sebuah masyarakat yang berarti diffrensiasi
fungsional dari struktur sosial dan sistem keagamaannya. Solusi ini nampaknya hanya akan
membuka front yang berhadapan dengan kaum Muslimin pada umumnya. Sekularitas
bukanlah pilihan yang realistis ketika ditawarkan dalam Islam,sehingga suadah
pasti banyak tantangan terhadapnya.
DAFTAR PUSTAKA
Duryat, Masduki, 2016, Paradigma Pendidikan
Islam, Bandung: ALVABETA
Muhaimin, 2001 Paradigma Pendidikan Islam: Upaya
Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam Di sekolah. PT Rosdakarya: Bandung,
Suwito, 2008, sejarah sosial pendidikan
islam, jakarta: kencana penada media group, hlm, 291-292.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar