Senin, 18 Desember 2017

Problema Guru Pendidikan Agama Islam di Era Global

BAB II
PEMBAHASAN
A.  Problema Guru Pendidikan Agama Islam di Era Global
1.    Term Guru Agama; Tantangan profesi
Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang dengan pesat sehingga menimbulkan berbagai permasalahan yang tumit dan kompleks, serta memerlukan pemecahan secara proporsional. Hal tersebut telah memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap bebagai bidang kehidupan termasuk dalam bidang pendidikan. Dalam hal pendidikan, guru memiliki posisi sentral, karena memiliki berbagai keterbatasan, guru sering kali menghadapi kesulitan. Di sini diperlukan pembinaan terhadap guru dan personil pendidikan lainnya yang lebih intens untuk meningkatkan kinerja dan kompetensi profesinya ke arah yang lebih profesional.
Di lihat dari sudut etimologi, term profesional berasal dari kata sifat yang berarti pencaharian, dan sebagai kata benda bermakna orang yang mempunyai keahlian seperti guru, dokter, hakim dan sebagainya. Dengan kata lain pekerjaaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh orang yang khusus dipersiapkan untuk itu. Untuk meningkatkan profesionalisme guru, maka sangat diperlukan guru yang memiliki kinerja bagus dan mumpuni. Kinerja berarti sesuatu yang dicapai, perstasi yang diperlihatkan, atau kemampuan kerja.
Hoy dan Miskell yang mengutip pendapat Vroom, menyatakan bahwa ‘performance  (ability x motivation)’. Dengan kata lain performance atau kinerja ditentukan oleh :
a.       kemampuan yang diperoleh dari hasil pendidikan, pelatihan, dan pengalaman,
b.      motivasi yang merupakan perhatian khusus dari hasrat seorang pegawai dalam melakukan suatu pekerjaan yang baik


Kemudian Robert Kreitner dan Angelo Kinichi mengemukakan bahwa kinerja tergantung pada pengaturan kemampuan (ability), upaya  (effort) dan keterampilan (skill).
Dari beberapa pandangan mengenai definisi kinerja diatas dapaat dipahami kinerja guru adalah seperangkat prilaku nyata yang ditunjukkan guru pada waktu dia memberikan pelajaran kepada siswanya. Kinerja guru dapat dilihat saat melaksanakan interaksi belajar mengajar dikelas termasuk bagaimana dia mempersiapkannya. Kinerja guru dapat dinilai dari aspek kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru, yang dikenal dengan istilah “kompetensi guru” yang meliputi hal-hal sebagai berikut : guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, kualifikasi akademik yang diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana. Sedangkan kompetensi guru meliputi :
1.      kompetensi paedagogik,
2.      kompetensi kepribadian,
3.      kompetensi sosial, dan
4.      kompetensi profesional.
Guru agama harus memiliki etos kerja yang tinggi dan profesional. Keprofesionalan itu tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas dimensi personal dan sosial, tetapi juga perlu adanya keseimbangan dengan peningkatan kualitas dimensi intelektual dan keprofesionalannya. Kerena itu, perlu adanya keseimbangan antara orientasi pendidikan agama yang menuntut kesalehan individu dan sosial dengan kesalehan intelektual dan profesional.
Menarik untuk dicermati, pandangan Muhaimin, ada beberapa karakteristik yang menandai kesalehan intelektual dan profesional guru.
1.      Memiliki kepribadian yang matang dan berkembang.
2.      Menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi ( bidang keahliannya ) serta wawasan pengembangannya, karena seorang guru yang dapat memberi inspirasi siswa nya tentang ilmu pengetahuan haruslah menguasai ilmu pengetahuan itu sendiri dan tidak boleh setengah-setengah.
3.      Menguasai keterampilan untuk membangkitkan minat siswa kepada ilmu pengetahuan.
4.      Siap untuk mengembangkan profesi yang berkesinambungan[1].

2.    Guru Agama Dalam Tantangan Global
Joseph Stiglitz mendefinisikan globalisasi sebagai “integrasi lebih dekat antara negara dan penduduk dunia ... melalui cara... penghancuran batas artifisial untuk arus barang, jasa, modal, pengetahuan dan penduduk secara lintas batas”.
       Pendidikan lokal pada semua tingkat masih jauh dari standar kompetitis global; termasuk indonesia. Pada tahun 2005 ada sekitar 10.854.254 lulusan pendidikan yang sekarang masih menganggur. Jumlah ini adalah lulusan sarjana dan diploma, termasuk lulusan SMA yang berasal dari pendidikan lokal. Para analisis menyebut ini masalah nasional karena rendahnya kemampuan guru dan kualitas belajar di Indonesia.
       Keahlian dasar sangat dibutuhkan dipasar tenaga kerja Indonesia dan ekonomi global membutuhkan keahlian berpikir kritis, keahlian memecahkan persoalan, berpikir dalam gambaran besar, keahlian komunikasi, dan sebuah sikap terus belajar seumur hidup – utlub al-‘Ilma min al-Mahdi ila al-Lahdi.
       Para guru agama juga seharusnya menggunakan riset internet, untuk memperbarui bahan pengajaran, dan menemukan metode cara mengajar yang lebih baik dari seluruh lembaga dibelahan dunia. Dengan jalan ini, para guru agama tidak harus tergantung pada pelatihan yang diadakan negara, namun dapat memperbaiki dan meningkatkan kemampuan diri secara otonom[2].

B.  Prospek dan Tantangan Pendidikan Islam
Sebagai agent of social change, pendidikan Islam dituntut untuk mampu memainkan peran secara dinamis dan proaktif. Diantara belitan berbagai persoalan besar, ia dihadapkan pula pada berbagai tantangan dan prospek ke depan.  Pengembangan wawasan intelektual yang kreatif dan dinamis diberbagai bidang dalam Islam merupakan kata kunci yang harus dipercepat prosesnya, baik pada tataran teoritis maupun praktis.
Berbicara tentang pendidikan Islam atau pendidikan yang berada di negara-negara Muslim pada abad XXI- meskipun berbagai kasus pengecualian, maka akan dijumpai polarisasi baik dari aspek epistemologi, ontologi, maupun aksiologinya masih menjadi bahan kajian dikalangan para ahli pendidika Islam.
Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab munculnya silang pemikiran tersebut.
a.       Pendapat yang mengatakan bahwa pendidikan Islam yang sekarang dikembangkan cenderung diadopsi dari barat.  Kalaupun muncul gagasan baru yang lahir dari pemikir-pemikir Muslim, hal tersebut dianggap hanya bersifat tambal sulam. Dengan kata lain, melepaskan diri dari penagruh barat adalah suatu hal yang impossible. Harus diakui bahwa sebagian besar negara Islam masih merupakan negara miskin dan berkembang yang saat ini masih jauh tertinggal dari kemajuan yang dicapai oleh negara-negara Barat.
b.      Karya-karya klasik pada masa kejayaan Islam yang merupakan representasi pemikiran pendidikan Islam yang komprehensif cukup jarang dijumpai.
c.       Pendidikan baru yang telah diadopsi dari kehidupan Barat dengan latar belakang kultural, struktur internal dan konsistensinya sendiri[3].

1.    Problem Utama
Beberapa problem utama yang mewarnai dunia pendidikan Islam pada umumnya dapat dikalsifikasikan dalam lima hal. Jiak dianalisis, maka dapat disimpulkan bahwa problem-problem tersebut merupakan rangkaian yang saling terkait. Persoalan tersebut adalah sebagai berikut :
a.       Dichotomy
Dalam mentransformasikan nilai-nilai Islami pada umumnya memang bukan tanggung jawab pendidikan Islam saja, tapi pendidikan umum pun berperan dalam pembentukan pribadi anak yang bermoral, sehingga ada suatu integrasi antara pendidikan Islam dan pendidikan umum. Persoalannya, bagaimana kita mampu mengintegrasikan, mempertemukan, dan memadukan program pendidikan agama dan pendidikan umum dalam kurikulum, dan pada prektik pendidikan sehari-hari disekolah, apalagi melihat kenyataan bahwa pendidikan Agama hanya diajarkan 2 jam dalam seminggu disekolah-sekolah umum. Ini merupakan suatu yang sangat dilematis dalam upaya besar  “mencetak” siswa yang bermoral—alih-alih tawuran antar pelajar yang terjadi, bahkan lebih jauh mencetak intelektual tapi tidak bermoral, pandai tapi tidak punya nurani, berkuasa tapi tidak berperasaan dan perbuatan anti sosial lainnya. Hal demikian diperparah lagi oleh kecenderungan materi pelajaran kita lebih menekankan kecerdasan intelektual pada proporsi yang lebih besar ketimbang kecerdasan emosional. Padahal seperti yang diungkapkan oleh Lawrence E.Shapiro emotional intelligence ini sangat penting untuk dikembangkan kepada anak. Kecerdasan emosional ini meliputi empati, mengungkapkan dan memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, kemampuan menyesuaikan diri, disukai, kemampuan memecahkan masalah antar pribadi, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan dan sikap hormat.
Ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum adalah alat yang diberikan manusia untuk mengetahui dan mengenal rahasia-rahasia alam ciptaan Tuhan yang dengan itu pula mereka bisa memanfaatkan dan menikmatinya, dan dengan itu pula mereka bisa memeliharanya dengan sebaik-baiknya sebagai khalifah Allah dimuka bumi ini.

b.      To General Knowledge
Kelemahan dunia Pendidikan Islam berikutnya adalah sifat ilmu pengetahuannya yang masih terlalu general/umum dan kurang memperhatikan kepada upaya penyelesaian masalah (problem-solving). Produk-produk yang dihasilkan cenderung kurang membumi dan kurang selaras dengan dinamika masyarakat. Syed Hussein Alatas menyatakan bahwa, kemampuan untuk mengatasi berbagai permasalahan, mendefinisikan, menganalisis dan selanjutnya mencari jalan keluar/pemecahan masalah tersebut merupakan karakter dan sesuatu yang mendasar kualitas sebuah intlektual. Ia menambahkan, ciri terpenting yang membedakan dengan non-intelektual adalah tidak adanya kemampuan untuk berpikir dan tidakmampu untuk melihat konsekuensinya.
Sebuah artikel tentang Kesepakatan Penyatuan Budaya Arab yang ditandatangani tahun 1964 mendefinisikan tujuan umum pendidikan moderen Arab sebagai berikut:
Penciptaan generasi-generasi Arab yang percaya kepada Tuhan, loyalkepada tanah air Arab, memiliki keyakinan yang kuat kepada diri dan bangsa sendiri, sadar akan tanggung jawabnya terhadap bangsa dan kemanusiaan…..membekali diri dengan sains dan moral, juga membagi kemakmuran terhadap masyarakat Arab dengan tetap menjaga posisi kejayaan Arab, menjaga hak-hak dan kemerdekaan, keamanan dan menghargai kehidupan
Menurut Tibawi tujuan terssebut terkesan lebih bersifat ideal daripada praktis, dan lebih berorientasi kepada kepentingan nasional/bangsa daripada kemanfaatan bagi warga negara secara individual. Tidak ada penjelasan dan filsafat yang komperhensif sejauh ini, yang diformulasikan baik pada tahapan yang bersifat umum maupun yang dipandang khusus dalam pendidikan. There is still a great deal of generalization.

c.       Memorisasi
Rahman menggambarkan bahwa, kemerosotan secara gradual dari standar-standar akademis yang berlangsung selama berabad-abad tentu terletak pada kenyataan bahwa, karena jumlah buku-buku yang tertera dalam kurikulum sedikit sekai, maka waktu yang diperlukan untuk belajar juga terlalu singkat bagi siswa siswa untuk dapat menguasai materi-materi yang seringkali sulit untuk dimengerti, tentang aspek-aspek tinggi ilmu keagamaan pada usia yang relatif muda dan belum matang. Hal ini pada gilirannya mrnjadikan belajar lebih banyak bersifat studi tekstual dari pada pemahaman pelajaran yang bersangkutan. Hal ini menimbulkan dorongan untuk belajar dengan sistem hafalan (memorizing) daripada pemahaman yang sebenarnya. Kenyataan menunjukkan bahwa abad-abad Pertengahan yang akhir hanya menghasilkan sejumlah besar karya-karya komentar dan bukan karya-karya yang pada dasarnya orisinal. Fenomena ini berkembang secara fundamental dari kebiasaan-kebiasaan berkonsentrasi pada buku dan bukunya pada pelajaran. Bisa dipastikan bahwa banyak pemikiran yang asli dan seringkali juga memiliki kadar orisinalitas besar terdapat pada karya komentar-komentar tersebut, tetapi orisinalitas yang mendasar dalam suatu subyek adalah relatif jarang.

d.      Certificate Oriented
Di antara semua umat atau masyarakat, orang-orang Islam memiliki kenukan dalam mengembangkan sains (‘ilm) terhadap penyebarluasan tradisi keagamaan (hadit). Bagi Muslim yang saleh ilmu hadith telah menjadi ilmu yang par excelence. Hal tersebut menjadi sesuatu yang mendasari tugas bagi mereka yang disebut ilmuwan, dalam merespon salah satu hadith Nabi yang cukup kondang: “Carilah ilmu walaupun sampai ke negri Cina”, menempuh perjalanan jauh dan melelahkan hingga ke luar wilayah kekhalifahan. Perjalanan-perjalanan tersebut (al-rihlah fi talab al’ilm) memiliki derajat yang tinggi di antara perbuatan-perbuatan yang saleh; barang siapa yang mati dalam perjalanan mencari ilmu adalah seperti mereka yang mati (sahid) di medan perang suci. Semangat inilah yang menjadi pola yang diterapkan dan dikembangkan pada masa-masa awal Islam dalam pencarian, pengumpulan dan penyeleksian Hadith menjad suatu disiplin yang memenuhi kriteria-kriteria ilmiah. Hitti menyebutnya sebagai “keunikan” yang belum dijumpai dalam masyarakat lain semasanya.
Potret di hampir seluruh universitas Islam di Arab dan Afrika menurut Tibi bahwa, para mahasiswa yang telah menyelesaikan studi dengan metode rote-learning dibekali dengan sebuah sertifikat/ijazah tetapi bukan dengan “kualitas substansial”, yang dapat di terapkan atau dimanfaatkan dalam proses pembangunan. Belajar, oleh kebanyakan orang dianggap hanyalah alasan pemenuhan kebutuhan perut (a bread winning ticket) atau ticket untuk masuk ke posisi-posisi yang lebih baik. Dalam perbincangan dengan otoritas akademik di berbagai negara Muslim dan berkembang lainnya, pada tuntutan akademik terhadap disiplin/lapangan mereka sesuai dengan jenjang akademik yang diperolehnya, dan yang terpenting lagi, terhadap universitas-universitas dari mana mereka berasal.

2.      Tantangan dan Prospek

a.      Tantangan
Pendidikan diyakini merupakan salah satu agen perubahan sosial. Pada satu segi pendidikan dipandang sebagai suatu variabel moderenisasi atau pembangunan. Tanpa pendidikan yang memadai, akan sulit bagi masyarakat mana pun untuk mencapai kemajuan. Karena itu banyak ahli pendidikan yang berpandangan bahwa “pendidikan merupakan kunci yang membuka pintu kearah moderenisasi”. Tetapi pada segi lain, pendidikan sering dianggap sebagai obyek moderenisasi atau pembangunan. Dalam konteks ini, pendidikan di negara-negara yang telah menjalankan program moderenisasi pada umunya di pandang masih terbelakang dalam berbagai hal, dan karena itu sulit diharapkan bisa memenuhi dan mendukung program pembangunan. Karena itu program pendidikan harus diperbaharui, dibangun kembali atau dimoderenisasi sehingga dapat memenuhi harapan dan fungsi yang dipikulkan kepadanya.
Rahman menarik satu benang merah dari pandangan 5 tokoh Muslim yaitu; Sayyid Akhmad Khan, Sayyid Amir ‘Ali, Jamaludin al-Afghani, Namik Kemal dan Muhammad Abduh, terdapat krisis yang melanda dunia pendidikan Islam. Bagian-bagian integral dari penalaran mereka adalah (1) bahwa tumbuh suburnya perkembangan sains dan semangat ilmiah dari abad kesembilan hingga kesepuluh di kalangan kaum muslimin adalah buah dari usaha memenuhi seruan Al-Qur’an agar manusia mengkaji alam semeta hasil karya Tuhan, yang menciptakan baginya; (2) bahwa pada abad-abad pertengahan yang akhir semangat penyelidikan ilmiah telah merosot dan karenanya masyarakat Muslim mengalami kemandegan dan kemerosotan; (3) bahwa Barat telah mengalahkkan kajian-kajian ilmiah yang sebagian besarnya telah dipinjamnya dari kaum Muslimin dan karenanya mereka mencapai kemakmuran, bahkan selanjutnya menjajah negeri-negeri Muslim; dan (4) bahwa karena kaum Muslimin, dalam mempelajari kembali sains barat yang telah berkembang, berarti menemukan kembali perintah Al-Qur’an yang telah terabaikan. Pandangan ini nampaknya dapat direkomendasikan menjadi semangat utama untuk mengejar ketertinggalan kaum Muslimin.
Hal terpenting dan paling mendesak dari sudut pandang ini adalah “melepaskan kaitan” secara mental dengan bangsa Barat serta menanamkan suatu sikap yang independent namun penuh pengertian terhadapnya, sebagai terhadap peradaban-peradaban lain, meskipun lebih dikhususkan kepada barat karena ia merupakan sumber dari banyak perubahan sosial di seluruh dunia. Selama kaum Muslimin tetapi terbelenggu kepada Barat secara mental, bagaimanapun mereka tidak akan mampu untuk bertindak secara independent dan otonom.
Pokok permasalahan dari seluruh masalah ”moderenisasi” pendidikan, yang diharapkan mampu menjadi agen perubahan sosial (agent of social change), adalah membuatnya mampu mencetak produktivitas intelektual yang kreatif dan dinamis dalam semua bidang usaha intelektual yang terintegrasi dengan Islam.
Sikap anti barat yang berlebihan dan tidak realistis justru menggiring dunia pendidikan Islam mengalami kemerosotan. Sikaptersebut terimplementasi ke dalam penolakan ilmu-ilmu “sekuler” yang disinyalir  merupakan produk Barat, sehingga dari sinilah pangkal tolak munculnya dikhotomi. Berpangkaldari dikhotomi inilahmasalah terus bergulir bagaikan ‘bola salju’ yang kian lama kian membesar. Ilmu-ilmu “sekuler” berikut perlengkapan-perlengkapan ilmiahnya seperti; penyelidikan, pengenalan, difinisi masalah, analisa dan diikuti dengan problem-solving-nya, didepak dari struktur intelektual Muslim. Kondisi tersebut masih diperparah dengan tradisi role-learning yang mengakar kuat di kalangan intelektual Muslim, yang ternyata mandul dalam menghasilkan output yang memiliki “kualifikasi substansial”, dan lebih memiliki kecenderungan berorientasi pada sertifikat/ijazah.
Upaya lain yang tidakkalah penting untuk mendapatkan penanganan serius adalah pembrnahan lembaga-lembaga pendidikan Islam. Problem yang menyelimuti dunia pendidikan Islam adalah kesenjangan di antara jenjang pendidikan. Higher Education biasanya berdirisebagai menara gading. Baik infra maupun supra struktur bagi Pendidikan Tinggi sering kali tidak memadai.
Pendidikan di tingkat dasar dan menengah kurang atau tidak mampu menyediakan calon-calon mahasiswa yang memenuhi standar kualifikasi yang diharapkan, untuk menempuh studi di perguruan tinggi. Dan kasus lainnya, bagi para mahasiswa baik dari negeri Muslim atau berkembang lainnya yang menamatkan pendidikan di luar negeri, seringkali tidak dapat diakomodir sekembali ke tanah airnya. Supra struktur, dalam hal ini lapangan pekerjaan maupun untuk pengembangan keilmuan yang telah mereka dapatkan seringkali menemui kesulitan, mereka mengalami stock culture atau bahkan alienisasi. Inilah pekerjaan rumah bagi pendidikan Islam untuk membenahi kelembagaannya, dengan satu pendekatan bahwa pwmbwnahan itu tidak bisa di lakukan secara sepenggal-sepenggal[4].
Oleh karena itu perjalanan bangsa kedepan akan menghadapi bebragai tantangan yang bukan berupa tantangan ekonomi, tetapi juga tanatangan social dan budaya. Adapun tantangan-tantangan tersebut adalah :
1.      Tantangan untuk menguasai dan mengembangkan teknologi
Teknologi merupakan factor yang sangat menentukan daya saing bangsa, karena teknologi menentukan kualitas, produktivitas, dan efisiensi. Teknologi berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, sehingga seringkali keduanya dilafalkan dalam satu nafas yakni ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Tingkat penguasaan iptek menentukan perbedaan dalam taraf kemajuan dan peradaban bangsa-bangsa di dunia.
2.      Tantangan menghadapi arus informasi dalam globalisasi
Kemajuan teknologi yang semakin pesat berkembang dalam era globalisasi membuat dunia menjadi semakin terbuka dan memungkinkan derasnya rus pertukaran informasi melalui berbagai media seperti televisi dan internet dalam komputer atau handphone canggih di genggaman kita. Informasi dari berbagai penjuru dunia, baik yang positif maupun negatif, telah menembus bats-bats negara, bahkan menembus dinding-dinding rumah tangga dan keluarga kita.
Tidak semua informasi yang masuk itu sesuai dengan ilai-nilai agama dan norma-norma budaya kita, bahkan tidak mustahil banyak yang membahayakan dan mnegancam budaya dan kepribadian luhur bangsa. Ada gejala umum sebagai dampak negatif globalisai yang harus kita waspadai.
Demoralisasi, materialisasi, konsumerisme dan hedonisme serta egoisme dan individualisme makin menggejala bersamaan dengan melemahnya tanggung jawab dan kesetiakawanan social. Semuanya jelas bertentangan dengan moral, agama, dan nilai-nilai budaya bangsa. Sebagian remaja dan pelajr saat ini teah terjangkiti pula oleh perilaku yang menyimpang dan bertentangan dengan nilai-nilai moral yang berkelanjutan dan meluas akan sangat mengancam masa depan bangsa yang kita cintai.
3.      Tantangan menyiasati modernisasi
Proses modernisasi yang paling mendasar adalah modernisasi budaya. Dalam proses ini berlangsung pengenalan dan penyerapan nilai-nilai luar yang bersenyawa dengan nilai-nilai tradisional dan menciptakan nilai-nilai baru.
Dengan kondisi budaya masyarakat Indonesia yang begitu beragam proses pembentukan nilai-nilai baru itu tidak berjalan secara sederhana. Sebagian masyarakat kita sudah berada pada era informasi, tetapi sebagian besar lagi masih hidup dalam tahap yang masih terbelakang. Secara budaya, bangsa Indonesia juga adalah bangsa yang majemuk dengan beragam suku, bahsa, adat-istiadat, dan agama. Kemajemukan itu disatu sisi merupakan kekayaan bangsa yang tidak ternilai dan merupakan sumber kekuatan bagi kehidupan bangsa, di sisi lain kemajemukan itu juga dapat menjadi potensi kerawanan yang memungkinkan timbulnya perpecahan.
Dalam keadaan demikian, proses perubahan nilai akan menimbulan benturan-benturan dan goncangan-goncangan, bukan saja antara nilai-nilai luar dan nilai-nilai tradisional, tetapi juga antara nilai-nilai yang hidup dalma masyarakat kita sendidiri. Semuanya itu merupakan tantangan yang tidak dapat dihindari dan harus kita atsai dengan pendekatan yang tepat.
4.      Tantangan untuk mengatasi kesenjangan
Pembangunan yang telah dilaksanakan selama ini, selain menghasilkan kemajuan, namun masih menyisakan kesenjangan baik anatar kelompok ekonomi, antar daerah dan antar sektor. Dalam era yang makin terbuka dan bebas, potensi kesenjangan akan semakin besar, karena kemampuan untuk memanfaatkan peluang tidaklah sama, bahkan masih banyak masyarakat yangberkemampuan rendah karena rendahnya tingkat pendidikan. Kesenjangan ekonomi yang ditunjukkan dengan tingkat kesejahteraan yangjauh berbeda antar satu kelompok dengan kelompok yang lain dapat memicu terjadinya konflik social. Oleh karena keberpihakan kepada yang lemah harus senantiasa ditumbuhkan. Agama Islam yang berprinsip pada keadilan social mengajarkan hal tersebut. Bahkan menggolongkan seseorang yang tidak memperhatikan dan membantu yang lemah sebagai orang yang mendustakan agama[5].
 Muhaimin, et. al. (2001) menyebutkan tantangan-tantangan yang dihadapi pendidikan agama "slam, yang se!ara internal meliputi orientasi pendidikan yang kurang tepat, pemahaman terhadap ajaran "slam secara sempit, perancangan dan penyusunan materi yang kurang tepat, metodologi dan elaluasi pendidikan yangkurang memadai, dan penyelenggaraan pendidikan yang eksklusif dan belum mampu berinteraksi dengan yang lain. Sedangkan se!ara eksternal berupa berbagai kemajuan" ptek yang memunculkan kritisisme ilmiah terhadap penjelasan ajaran agama,globalisasi, dan kemajemukan masyarakat beragama yang belum siap terhadap perbedaan paham[6].
b.      Prospek
Kaum muslimin merupakan komunitas terbesar kedua yang ada di bumi ini. Tentu merupakan sebuah potensi yang sangat besar bila hal ini mampu digarap dengan baik, dari segi kualitas mauoun kuantitasnya. Lebih dari itu, jika dilihat, sebagian besar negara Muslim merupakan negara yang memiliki potensi alam yang sangat kaya. Sehingga dua potensi, yaitu sumber daya manusia dan sumberdaya alam, jika mampu dipadukan secara simultan, maka akan menjadi sebuah kekuatan besar di dunia ini.
Semakin terbukanya cakrawala pemikiran di antara sebagian intelektual Muslim, salah satunya ditandai dengan semakin banyaknya pelajar/sarjana Muslim yang belajar di Barat, merupakan angin segar bagi upaya menemukan kejayaan masa lalu yang hilang.
Satu hal lagi yang perlu disorot adalah gerakan-gerakan negara Islam seperti OKI atau Liga Arab, jika mampu mengoptimalisasi peran, khususnya pencerahan dalam bidang pendidikan, akan memberikan kontribusi dan dampak yang cukup signifikan bagi masyarakat Islam dunia


c.       Permasalahan klise pendidikan islam
Di kalangan umat Islam, masalah pendidikan mendapat perhatian khusus, karena berkembangnya Islam sendiri tidak lepas dari peran pendidikan yang begitu besar. Oleh karena itu walaupun perkembangan politik suatu negara (Islam) sedang tidak menentu, atau singkatnya adanya perkembangan yang menutup ruang partisipasi masyarakat dalam menentukan arah negaranya, maka bagi dunia pendidikan tetap saja terbuka. Hal ini bisa dilihat dari antusiasme masyarakat terhadap pentingnya pendidikan yang mendorong munculnya berbagai lembaga-lembaga pendidikan yang menawarkan berbagai jenjang. Ini merupakan pandangan profetis masyarakat khususnya kaum muslimin dalam merencanakan masa depannya menjadi lebih baik.
Pandangan positif masyarakat tersebut di atas akan menjadi sia-sia jika tanpa didukung oleh pembaharuan di bidang pendidikan itu sendiri, dalam hal ini pendidikan Islam. Pendidikan Islam khususnya madrasah masih belum menunjukan perkembangan pembaharuan yang memuaskan. Madrasah ternyata masih kalah bersaing dengan sekolah-sekolah umum yang berada dalam naungan Departemen Pendidikan
Nasional.
Sejalan dengan perkembangan Indonesia, madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam juga terus berkembang namun perkembangan itu cukup eksklusif, di mana aksentuasi pada pengetahuan keagamaan (Islam) lebih diutamakan. Hal ini juga yang menyebabkan perkembangan madrasah hanya ada pada kantong-kantong masyarakat Islam. Ekspansi yang dilakukan pun hanya berkisar di daerah pedesaan sedangkan untuk di perkotaan sangat jarang. Oleh karena itu hingga saat ini keberadaan madrasah lebih banyak di pedesaan daripada di perkotaan. Dan hal ini juga yang memicu lambannya perkembangan madrasah, madrasah seakan jauh dari atmosfir pembaharuan sistem pendidikan, baik secara kelembagaan maupun sistem dari proses pembelajaran itu sendiri[7].


BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Sebagai agen perubahan sosial, Pendidikan Islam yang berbeda dalam atmosfer Moderenisasi dan Globalisasi dewasa ini dituntut untuk mampu memainkan perannya secara dinamis dan proaktif. Kehadirannya diharapkan mampu membawa perubahan dan kontribusi yang berarti bagi perubahan unmat Islam, baik pada daratan intelektual teoritis maupun praktis. Adalah bukan sikap yang tetap mebiarkan diri tertidur lelap, menutup mata atau mengisolir diri terhadap hiruk pikuknya perubahan sosial yang tengah berlangsung, dan tidak mau mengambil bagian daripadanya.
Solusi pokok yang ditawarkan Rahman, sebagaimana telah dikutip dimuka adalah; Pengembangan wawasan intelektual yang kreatif dan dinamis dalam sinaran dan terintegrasi dengan Islam harus segera dipercepat prosesnya. Dendam lama yang terus dilanggengkan serta penolakan kultur terhadap Barat secara membabi-buta bukanlah sikap yang arif. Hal tersebut hanya akan menjadi bumerang bagi pengembangan intelektual Islam. Di sinilah “sikap mental” kalangan intelektual Muslim perlu di kaji dan ditata kembali. Sikap ini bisa dikatakan cukup moderat dan cukup acceptable di kalangan Muslim.
Sedang solusi pokok yang dilontarkan oleh Tibi adalah secularization, yaitu industrialisasi sebuah masyarakat yang berarti diffrensiasi fungsional dari struktur sosial dan sistem keagamaannya. Solusi ini nampaknya hanya akan membuka front yang berhadapan dengan kaum Muslimin pada umumnya. Sekularitas bukanlah pilihan yang realistis ketika ditawarkan dalam Islam,sehingga suadah pasti banyak tantangan terhadapnya.


DAFTAR PUSTAKA

Duryat, Masduki, 2016, Paradigma Pendidikan Islam, Bandung: ALVABETA
Muhaimin, 2001 Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan  Pendidikan Agama Islam Di sekolah. PT Rosdakarya: Bandung,
Suwito, 2008, sejarah sosial pendidikan islam, jakarta: kencana penada media group, hlm, 291-292.



[1] Masduki duryat, 2016, paradigma pendidikan islam, bandung: ALVABETA, hlm. 153- 155
[2]  Ibid_ hlm. 155-157
[3] Ibid_hlm 158-159
[4] Ibid_hlm 160-166
[5] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam:Upaya Mengefektifkan  Pendidikan Agama Islam Di sekolah. (PT Rosdakarya: Bandung, 2001), hal. 36
[6] Ibid, hlm,  92

[7] Suwito, 2008, sejarah sosial pendidikan islam, jakarta: kencana penada media group, hlm, 291-292.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar