Senin, 18 Desember 2017

ISLAM DI SINGAPUR

BAB II
PEMBAHASAN
ISLAM DI SINGAPUR
A. LETAK GEORGRAFIS DAN SEJARAH SINGAPURA
Singapura terletak tepat di ujung pantai selatan Semenanjung melayu, yang terpisah dari daratan Semenanjung Malaka (Johor) oleh Selat Johor, dan dihubungkan oleh sebuah tambak yang bernama tambak Johor. Republik Singapura merupakan sebuah negara kepulauan yang terdiri atas sebuah pulau Singapura (temasek) dan 54 pulau kecil termasuk Pulau Karang. Luas wilayahnya sekitar 621,4 dan berpenduduk 2.800.000 jiwa, dengan kepadatan penduduk 4.590/ km2.
Istilah Singapura muncul pada tahun 1299, ketika seorang putra Raja Tamil yang bernama Sang Nila Utama bersama istrinya, Putri Banten Wan Sri Bini, berlayar kedaerah ini. Berdasarkan legenda sejarah melayu, setelah kedua orang ini beserta rombongannya tiba ditempat ini, mereka melihat seekor binatang buas melintasi jalan yang mereka lalui. Binatang besar itu sebesar kambing, ternyata binatang iyu seekor singa. Kemudian, sang Nila Utama memberi nama daerah ini dengan sebutan Singapura (kota singa)[1].
B. Masuknya islam dan perkembangannya di singapur
Sampai sekarang, belum dapat ditemukan bukti-kukti yang jelas tentang pertama kalinya islam masuk kesingapur, tetapi berdasarkan perkiraan , hal tersebut terjadi pada masa aktifnya para pedagang muslim di malaka. Islam masuk ke Singapur pada abad ke-8 karena pada abad tersebut para pedagang muslim telah sampai kekeraton, cina, yang singgah di pulau-pulau yang telah berpenduduk di Semenanjung tanah melayu[2].
Kedatangan Islam ke Singapura tidak lepas dari datangnya Islam ke Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Malaysia. Banyak beberapa ahli dan peneliti sejarah mengatakan bahwa Islam datang ke daerah Asia Tenggara pada abad ke 7 dengan bukti adanya cerita dari Cina yang berasal dari Zaman T’-Ang. Adapula yang mengatakan pada abad ke 13 dengan bukti yaitu akibat adanya keruntuhan dinasti Abbasiyah oleh bangsa Mogul pada tahun 1258, berita Marco Polo tahun 1292 dan Ibnu Battutah abad ke 14 serta nisan-nisan kubur Sultan Malik as Saleh tahun 1292.[3] Adapun Islam datang ke Singapura, Sharon Siddique seorang peneliti perkembangan Islam Singapura mengatakan bahwa kaum Muslim datang ke Singapura sebagai pendatang. Akan tetapi warisan budaya dan agama mereka sama dengan wilayah Melayu lainnya. Maka mereka dianggap lebih sebagai pribumi atau setidaknya migran asli atau paling awal.[4] Pendapat lain mengatakan bahwa sampai sekarang belum ditemukan bukti-bukti yang jelas kapanpertama Islam masuk ke Singapura, tapi berdasarkan perkiraan sezaman dengan masa-masa aktifnya para pedagang muslim berada di Malaka. Karena pada abad ke-8 para pedagang muslim ini telah sampai ke Kanton, China, yang kemungkinan besar akan singgah di pulau-pulau yang telah berpenduduk di semenanjung tanah Melayu. Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi adalah salah salah satu pedagang muslim yang berjasa menyebarkan Islam di tanah Melayu.[5]


C. Lembaga dan Aktivitas keagamaan Islam Di singapura
Ada 15 persen penduduk Singapura yang Muslim. Sebagian besar orang adalah Melayu. Pengikut lain termasuk dari komunitas India dan Pakistan serta sejumlah kecil dari Cina, Arab dan Eurasia. 17 persen dari Muslim di Singapura berasal dari India. Sementara mayoritas Muslim di Singapura secara tradisional adalah Muslim Sunni yang mengikuti mazhab Syafi'i, ada juga Muslim yang mengikuti mazhab Hanafi serta sedikit Muslim Syiah.
Islam di Singapura tidak bisa dipisahkan dari sejarah kolonial. Pada tahun 1915, penguasa kolonial Inggris mendirikan Dewan Penasihat Islam. Dewan ini bertugas untuk memberikan nasihat kepada penguasa kolonial mengenai hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam dan adat-istiadatnya. Singapura sudah terkenal sebagai negara yang menjembatani kepentingan Yahudi di Asia Tenggara. Tidak heran jika kemudian negeri ini menjadi “basis” Yahudi di kawasan ini.[6]
Saat ini di Singapura terdapat 69 masjid. Semua masjid ini dibawah admistrasi MUIS sepenuhnya. Di Singapura terdapat 6 madrasah yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan. Berikut ini keenam madrasah tersebut.
1.  Madrasah Al-Arabiah Al-Islamiah.
2.  Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiah.
3.  Madrasah Aljunied Al-Islamiah.
4.  Madrasah Al-Maarif Al-Islamiah (khusus putri).
5.  Madrasah Alsagoff Al-Arabiah (khusus putri).
6.  Madrasah Wak Tanjong Al-Islamia.
Pada 1966, parlemen mengesahkan Administration of the Muslim Law Act (AMLA). Undang-undang yang mulai berlaku pada 1968 tersebut menetapkan kewenangan dan yurisdiksi tiga lembaga Islam, yaitu Islamic Religious Council of Singapore atau Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS), Syariah Court, dan Registry of Muslim Marriages (ROMM).[7]
a.            Islamic Religious Council of Singapore
Islamic Religious Council of Singapore atau Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS) merupakan badan yang memiliki peran penting dalam urusan agama Islam. Fungsi dan tugas Majlis Ugama Islam Singapura sebagai berikut.
1. Memberi saran kepada presiden Singapura dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan agama Islam di Singapura.
2. Mengurusi masalah yang berkaitan dengan agama Islam dan kaum muslimin di Singapura, termasuk urusan haji dan sertifikasi halal.
3. Mengelola wakaf dan dana kaum muslimin berdasarkan undang-undang dan amanah.
4. Mengelola pengumpulan zakat, infak, dan sedekah, untuk mendukung dan mensyiarkan agama Islam atau untuk kepentingan umat Islam.
5. Mengelola semua masjid dan madrasah di Singapura.

b.      Syariah Court (Pengadilan Syariah)
Pada 1880, pemerintah kolonial Inggris mengeluarkan peraturan tentang pernikahan pemeluk Islam, yakni Mahomedan Marriage Ordinance. Ordonansi ini mengakui status hukum pribadi kaum muslim di Singapura.
Pada 1958, berdasarkan Muslim Ordinance (Ordonansi Muslim) 1957, didirikan Syariah Court (Pengadilan Syariah), dengan kewenangan mendengarkan dan memutuskan perselisihan yang berkaitan dengan pernikahan dan kasus perceraian pemeluk Islam.
Pengadilan ini menggantikan peran kadi (hakim Islam) yang sebelumnya berwenang memberi keputusan dalam kasus perceraian dan warisan dengan mengikuti tradisikelompok etnik tertentu atau penafsiran mereka terhadap hukum Islam.
c.       Registry of Muslim Marriages (ROMM)
Registry of Muslim Marriages bertugas mencatat pernikahan pasangan muslim (keduanya muslim). Pernikahan pasangan berbeda agama dicatat pada Registry of Marriages.
Sebelumnya, registrasi pernikahan umat Islam juga perceraian, dilaksanakan dalam satu unit, yakni Syariah Court. Registry of Muslim Marriages semula berkantor di sebuah rumah peristirahatan di Fort Canning, kemudian pindah ke Canning Rise pada 1983[8]
D. Model Pendidikan Islam di Singapura
Sejarah awal munculnya pendidikan Islam di Singapura tidak dapat diketahui dengan pasti. Yang jelas pendidikan islam telah ada pada pase awal kedatangan Islam ke Singapura itu sendiri. Pendidikan islam di Singapura di sampaikan para ulama yang berasal dari negeri lain di Asia Tenggara atau dari Negara Asia Barat dan dari benua kecil India. Para ulama tersebut diantaranya ialah Syaikh Khatib Minangkabau, Syaikh Tuanku Mudo Wali Aceh, Syaikh Ahmad Aminuddin Luis Bangkahulu, Syaikh Syed Usman bin Yahya bin Akil (Mufti Betawi), Syaikh Habib Ali Habsyi (Kwitang Jakarta), Syaikh Anwar Seribandung (Palembang), Syaikh Mustafa Husain (Purba Baru Tapanuli), Syaukh Muhammad jamil Jaho (Padang Panjang) dll. Seperti di Negara lain, pendidikan agama Islam di Singpura dijalankan mengikuti tradisi dan system persekolahan modern. System tradisional, mengikuti pola pendidikan Islam berdasarkan system persekolahan pondok Malaysia dan Patani atau pesantren di Indonesia. Adapun system modern adalah melalui system sekolah yang merujuk ke Mesir dan Barat, yang dikenal dengan madrasah, sekolah arab atau sekolah agama. Ada empat madrasah terbesar di Singapura sampai saat ini, yaitu :
a. Madrasah al-Junied al-Islamiyyah, didirikan pada bulan muharam 1346H (1927M) oleh pangeran Al-Sayyid Umar bin Ali al-Junied dari Palembang. Mata pelajaran yang diajarkan dimadrasah ini adalah ilmu Hisab, Tarikh, Ilmu Alam, Bahasa Melayu, Bahasa Inggris, Sains, Sastra Melayu dan mata pelajaran lainnya.
b. Madrasah al-Ma’arif, didirikan pada tahun 1940-an. Pengasuh madrasah ini adalah lulusan universitas al-Azhar, Mesir dan dari kawasan Asia Barat.
c. Madrasah Wak Tanjung Al-Islamiyyah, didirikan pada tahun 1955.
d.  Madrasah Al-Sago (atau Al-Saqaf), didirikan pada tahun 1912 diatas tanah yang diwaqafkan oleh Sed Muhammad bin Sed Al-Saqof.
     Pada kenyataannya, kemajuan sebuah Negara tidak lepas dari kondisi geografis dan keadaan pendidikannya. Pendidikan merupakan standarisasi penilaian secara tidak langsung yang dapat menjadi pertimbangan dalam mengkategorisasikan maju tidaknya sebuah Negara. Demikian pula halnya Negara Singapura, dilihat dari  factor pendidikan tekanan bagi kaum muslim dan melayu di Singapura sungguh-sungguh nyata.
     Ini terlihat dari meningkatnya pendidikan dan kemajuan ekonomi yang telah dicapai orang-orang singapura lainnya khususnya orang-orang Cina yang mayoritas dinegara itu. Tekanan tersebut nampak nyata dalam tulisan-tulisan dan studi-studi yang dilakukan komunitas Muslim-Melayu sepanjang tahun 1980-an. Dilatarbelakangi sensus penduduk 1980 yang menyatakan bahwa orang-orang Melayu Singapura tertinggal di belakang etnis lain, dalam status social ekonomi, diskursus public kembali diaktifkan organisasi-organisasi muslim seperti Majlis Pusat untuk menggerakan pesan bahwa jalan keluar bagi kaum muslim adalah  meningkatkan pendidikan dan kompetensi professional. Sejalan dengan seruan itu adalah himbauan dari pemimpin-pemimpin muslim dan aktifitas-aktifitas yang berorientasi islam agar menanggulangi status social ekonomi mereka dalam kerangka dan prinsip-prinsip islam.
     Sejauh menyangkut masalah pendidikan walau sejak tahun 1970-an pesan pentingnya pendidikan (khususnya pendidikan tinggi) sebagai katalis bagi kehidupan yang lebih layak bagi etnis melayu telah disuarakan oleh organisasiorganisasi Melayu, kembali di intensifkan pada tahun 1981.  Pada tahun itu pula didirikan majelis pendidikan anak-anak (MENDAKI) yang mengarahkan kegiatannya pada masalah pendidikan bagi anak-anak muslim.
     Pemimpin melayu muslim sangat berhasil dalam menarik dukungan yang besar, bukan hanya dari perhimpunan-perhimpunan atau kelompok-kelompok Melayu-muslim, tapi juga dari pemerintah. Status majlis itu kemudian meningkat menjadi yayasan tahun 1982 setelah majelis sukses melaksanakan ‘Kongres tentang Pendidikan Anak-Anak Muslim, suatu kesempatan dimana Perdan Menteri menyampaikan suatu key note addres
     Disamping itu pembentukan MENDAKI juga mempercepat kehadiran dan publikasi bahan-bahan dan karya-karya yang terkait dengan pendidikan bagi minoritas di Singapura. Walaupun karya-karya dalam bentuk buku masih langka, tersedia makalah-makalah yang disajikakan dalam seminar dan konferenaikonferensim dan artikel-artikel yang dipublikasikan oleh MENDAKI dan lembagalembaga muslim lainnya seperti MUIS dan JAMIYYAH. MENDAKI misalnya, menerbitkan a collection of mendake papers (1982), suatu kompilasi dari sekitar sepulus proyek yang mencakup bermacam-macam masalah yang berkaitan dengan pendidikan bagi kaum muslim, dan MUIS menerbitkan jurnal yang pertama kali tentang masalah-masalah kaum muslim di Singapura, fajar islam tahun1988. Fajar islam diterbitkan, menurut editornya, dengan tujuan untuk memahami perkembangan social ekonomi dan politik yang mempengaruhi kaum muslim Singapura dan menelaahnya secara cermat, obyektif dan analitik.
     Mencermati masalah keterpurukan pendidikan minoritas muslim (Melayu) dari etnis Cina (non islam lain) di Singapura, terlihat bahwa etnis Cina cenderung memiliki prestasi pendidikan, dimana dengan terdapatnya halangan dan rintangan dalam pencapaian stabilitas sosio ekonomi seseorang individual melalui pendidikan Singapura periode 1959-1980, dimana kondisi ekonomi etnis Cina memang sudah mapan sebelum perang, akan diwarisi anak-anak mereka, sehingga pendidikan mereka juga cenderung lebih tinggi dan lebih mapan, ditambah lagi basis bahasa inggris yang mereka kuasai.
     Hal semacam ini, justru terdapat bagi kebanyakan etnis melayu (muslim), karena pada periode 1960-1970 an, 60% perhasilan perkapital penduduk melayu
tergolong ekonomi lemah (rendah), sementara Cina hanya 40% terkategorikan penduduk miskin.Kondisi dan akta ini, tentunya tercermin pula dalam penyaluran pendidikan di antara anak-anak muslim dengan etnis cina dalam rangka memasuki sekolah menengah. Pada tahun 1983 60% pelajar-pelajar melayu disalurkan kealiran sekolah rendah (biasa), sedangkan etnis cina sebanyak 40%. Selain jurang ekonomi yang mempengaruhi semua penduduk singapura terdapat factor lain yang unik kepada orang melayu dan menyababkan merekan lebih rugi dari pada orang cina.
     Tahun 1965, kurang lebih 50% pelajar melayu mendaftarkan diri dalam program pendidikan yang diajar dalam bahasa melayu. Sungguhpun pendidikan inggris cepat sekali menjadi popular setelah kemerdekaan singapura dari Malaysia pada 1965, para pelajar yang mulanya berbasis melayu, terpaksa mengundurkan diri. Sedangkan para pelajar melayu yang layak dan cukup kredibel dalam memasuki pendidikan menengah dipindahkan kealiran inggris dimana merekan tidak mempunyai persediaan dan kesiapan dari segi bahasa. Bagi sebagian kecil pelajaran Melayu yang layak ke Universitas banyak yang bingung dalam mengambil atau memperdalamilmu mereka melalui kursus-kursus professional dan sains yang semuanya diajar dalam bahasa inggis[9].
      Mereka sama sekali tidak diperkenangkan  untuk mengambil kursus-kursus itu, sehingga ketika mereka telah tamat dari Universitas dan ingin berkerja dengan melamarkan Ijazah yang mereka peroleh, sering kali peluang bagi para siswa aliran Melayu mendapat perlakuan yang kurang adil. Hal ini sebenarnya juga dialami oleh etnis Cina, mereka juga diperlakukan sebagaimana etnis Melayu, akan tetapi keunggulan Cina dari Melayu adalah mereka memiliki alternalif yang dapat menjembatani anak-anak mereka untuk bekerja di sektor-sektor ekonomi yang menggunakan bahasa Cina.
     Selain faktor-faktor ekonomi yang etnis yang menjelaskan prestasi pelajarpelajar Melayu dibidang pendidikan kiranya masih perlu dikaji menurut golongan etnis apakah kelemahan prestasi pendidikan pelajar-pelajar Melayu berbeda jauh dari orang-orang Cina yang berpuncak dari factor-faktor dalam budaya melayu sendiri. Dikalangan setengah elit Melayu pemerintah dan orang Cina sungguh-sungguh percaya bahwa orang melayu kurang kuat berkerja dan kurang berorientasikan pencapaian dalam pendidikan dan dalam ekonomi secara umum dari pada orang Cina. Nilai-nilai budaya yang tidak sesuai adalah sebab kenapa prestasi pendidikan dan ekonomi mereka lemah. Budaya orang Cina dan budaya Melayu memiliki perbedaan dalam menata pola urusan rumah tangga. Dalam budaya Cina, nilai pendidikan bagi anak sangat dijunjung tinggi. Oleh karenanya pendidikan anak-anak mereka harus diutamakan dan diperhatikan secara serius, walau anak juga dilibatkan dalam urusan usaha menghasilkan uang atau peningkatan ekonomi keluarga. Mungkin hal ini pula yang memicu semangat orang-orang Cina untuk lebih berdikari dan lebih tinggi semangat kemandiriannya jika dibandingkan dengan orang-orang Melayu. Semangat kerja ini, akhirnya mendarah daging dalam menempuh jalur pendidikan sehingga dibidang pendidikan pun, etnis Cina terlihat lebih unggul dari pada etnis melayu. Keberadaan lembaga swadaya masyarakat Islam (LSM) juga tak kalah pentingnya dalam upaya menjadikan muslim dan komunitas Islam negeri itu potret yang maju dan progresif. Berbagai LSM Islam yang ada terbukti berperan penting dalam agenda-agenda riil masyarakat muslim.
     Saat ini, tidak kurang dari sepuluh LSM, di antaranya adalah: Association of Muslim Professionals (AMP), Kesatuan Guru-Guru Melayu Singapura (KGMS), Muslim Converts Association (Darul Arqam), Muhammadiyah, Muslim Missionary  Soceity Singapore (Jamiyah), Council for the Development of Singapore Muslim Community (MENDAKI), National University Singapore (NUS) Muslim Society, Perdaus (Persatuan dai dan ulama Singapura), Singapore Religious Teachers Association (Pergas), Mercy Relief (Center for Humanitarian), International Assembly of Islamic Studies (IMPIAN), dan Lembaga Pendidikan Alquran Singapura (LPQS).
Seluruh lembaga dan sistem manajemen profesional ini ditujukan bukan saja pada terbentuknya kualitas muslim dan komunitas Islam yang maju, moderat dan progresif, tetapi juga potret yang mampu berkompetisi dan meningkatkan citraIslam di tengah pemandangan global yang kurang baik saat ini. Model demikian inilah yang kini terus diperjuangkan agar Islam yang rahmat menjelma dalam kehidupan masyarakat Singapura.

E.  Kondisi Pendidikan Masyarakat Islam di Singapura Saat Ini
Saat Negara Singapura termasuk ketat dan cukup keras kepada para aktivis Islam. Mereka tak segan-segan mendeportasi mahasiswa Islam yang dinilai mempunyai komitmen terhadap perkembangan dakwah. Aktivitas keislaman di Singapura pun otomatis tidak banyak. Dengan perkembangan seperti ini, sepertinya Islam di negeri Singa ini tak bisa berkembang terlalu banyak. Namun bukan berarti orang-orang Islam di sana pun berdiam diri. Hingga adzan bisa berkumandang di Singapura. Perkembangan Islam itu terus menunjukkan peningkatan yang cukup berarti. Hingga kini, pemeluk Islam di Singapura tercatat sebanyak 15 persen dari jumlah penduduk keseluruhan (sekitar 650 ribu orang dari 3,5 juta jumlah penduduk keseluruhan).
Jumlah demikian menempatkan muslim Singapura, atau lebih dikenal sebagai muslim Melayu, pada urutan kedua setelah etnis Cina 77 persen, dan India 8 persen. Di tengah sistem kehidupan sekuler yang diterapkan pemerintah setempat, muslim Singapura terus berpacu meningkatkan kualitas diri, agar mampu berkompetisi dengan lajunya kemajuan dan zaman.
Sementara itu, dana bagi pengembangan masjid dan madrasah, ada kasnya sendiri. Tidak lagi diambilkan dari dana ZIS wakaf tersebut. Untuk madrasah ada kotak bernama "Dana Madrasah". Sedangkan dana masjid diperoleh dari sumbangan kaum muslim, khususnya kotak Jumat. Meski juga terkadang masih dapat bantuan dari dana ZIS wakaf. Madrasah, masjid, dan LSM
Manajemen profesionalitas dalam pemberdayaan potensi dan peningkatan kualitas umat bukan hanya terlihat pada aspek ZIS wakaf. Ia juga tampak jelas dalam pengelolaan pendidikan (madrasah), masjid, dan lembaga-lembaga swadaya Islam non-pemerintah (NGO). Lembaga pendidikan Islam (madrasah) dikelola secara modern dan profesional, dengan kelengkapan perangkat keras dan lunak. Dari seluruh madrasah Islam (sebanyak enam buah, seluruhnya di bawah naungan MUIS), sistem pendidikan diterapkan dengan memadukan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Keenam madrasah itu adalah madrasah Al-Irsyad Al-Islamiah, madrasah Al-Maarif Al-Islamiah, madrasah Alsagoff Al-Islamiah, madrasah Aljunied Al-Islamiah, madrasah Al-Arabiah Al-Islamiah, dan madrasah Wak Tanjong Al-Islamiah.
Waktu penyelenggaraan belajar mengajar dimulai dari pukul 08.00 hingga 14.00. Lama waktu ini juga berlaku di sekolah-sekolah umum dan non-madrasah. Agar tidak ketinggalan dengan kemajuan teknologi, maka di setiap madrasah dibangun laboratorium komputer dan internet, serta sistem pendukung pendidikan audio converence. Selain dilengkapi fasilitas internet, setiap madrasah juga mempunyai server tersendiri bagi pengembangan pendidikan modern. Murid dibiasakan dengan teknologi, terutama teknologi internet. Setiap hari, mereka diberi waktu dua jam untuk aplikasi dan pemberdayaan internet. Sayangnya, pendidikan Islam baru ada dalam institusi TK hingga madrasah Aliyah (SMU). Untuk perguruan tingginya hingga kini belum ada.
Aktivitas lainnya, diskusi berbagai masalah kontemporer dan keislaman. Diskusi ini biasanya diadakan oleh organisasi remaja di setiap masjid. Dewan pengurus setiap masjid juga menerbitkan media (majalah dan buletin) sebagai media dakwah dan ukhuwah sesama muslim. Berbeda dengan di negara lainnya, para pengurus masjid digaji khusus, dan memiliki ruangan pengurus eksekutif laiknya perkantoran modern[10].
Keberadaan lembaga swadaya masyarakat Islam (LSM) juga tak kalah pentingnya dalam upaya menjadikan muslim dan komunitas Islam negeri itu potret yang maju dan progresif. Berbagai LSM Islam yang ada terbukti berperan penting dalam agenda-agenda riil masyarakat muslim.
Menyadari hal ini, pemerintah dan tokoh-okoh Islam di Singapura mengadakan berbagai upaya peningkatan berbagai aspek, sehingga pada saat ini masyarakat muslim Singapura sudah banyak yang berpendidikan formal dan bahkan ada pula yang mendapatkan gelar Ph.D.










BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Singapura terletak tepat di ujung pantai selatan Semenanjung melayu, yang terpisah dari daratan Semenanjung Malaka (Johor) oleh Selat Johor, dan dihubungkan oleh sebuah tambak yang bernama tambak Johor.
Sampai sekarang, belum dapat ditemukan bukti-kukti yang jelas tentang pertama kalinya islam masuk kesingapur, tetapi berdasarkan perkiraan , hal tersebut terjadi pada masa aktifnya para pedagang muslim di malaka. Islam masuk ke Singapur pada abad ke-8 karena pada abad tersebut para pedagang muslim telah sampai kekeraton, cina, yang singgah di pulau-pulau yang telah berpenduduk di Semenanjung tanah melayu.




















DAFTAR PUSTAKA
Acep Ahmad Hidayat, M. Ag., dkk. 2014, Studi Islam di Asia Tenggara,  Bandung, CV: Pustaka Setia.
Ajid Thohir, Studi Kawasan Dunia Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009).
Iik Arifin Mansurnoor dan Dadi Damadi, “Minoritas Islam” dalam Ensklopedi Tematis Dunia Islam: Asia Tenggara, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002).
Musthafa dan Abdullah Aly, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Bandung: Pustaka Setia, 1998).
Saifullah, Sejarah dan Kebudayaan Islaam di Asia Tenggara, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2010).
Sartono Kartodirjo, Sejarah Nasional Indonesia, jilid III (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1975).



[1]    Acep Ahmad Hidayat, M. Ag., dkk. 2014, Studi Islam di Asia Tenggara,  Bandung, CV: Pustaka Setia, Hlm.
[2] Ibid.
[3] Sartono Kartodirjo, Sejarah Nasional Indonesia, jilid III (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1975) hlm. 110
[4]  Iik Arifin Mansurnoor dan Dadi Damadi, “Minoritas Islam” dalam Ensklopedi Tematis Dunia Islam: Asia Tenggara, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002) hlm. 458
[5] Ajid Thohir, Studi Kawasan Dunia Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009),hlm. 379
[6] Musthafa dan Abdullah Aly, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Bandung: Pustaka Setia, 1998), hlm. 97
[7] Saifullah, Sejarah dan Kebudayaan Islaam di Asia Tenggara, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 113
[8] Ibid.
[9] Ibid.
[10] Ibid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar