BAB II
PEMBAHASAN
ISLAM DI SINGAPUR
A.
LETAK GEORGRAFIS DAN SEJARAH SINGAPURA
Singapura terletak tepat di
ujung pantai selatan Semenanjung melayu, yang terpisah dari daratan Semenanjung
Malaka (Johor) oleh Selat Johor, dan dihubungkan oleh sebuah tambak yang
bernama tambak Johor. Republik Singapura merupakan sebuah negara kepulauan yang
terdiri atas sebuah pulau Singapura (temasek) dan 54 pulau kecil termasuk Pulau
Karang. Luas wilayahnya sekitar 621,4 dan berpenduduk 2.800.000 jiwa, dengan
kepadatan penduduk 4.590/ km2.
Istilah Singapura muncul pada
tahun 1299, ketika seorang putra Raja Tamil yang bernama Sang Nila Utama
bersama istrinya, Putri Banten Wan Sri Bini, berlayar kedaerah ini. Berdasarkan
legenda sejarah melayu, setelah kedua orang ini beserta rombongannya tiba
ditempat ini, mereka melihat seekor binatang buas melintasi jalan yang mereka
lalui. Binatang besar itu sebesar kambing, ternyata binatang iyu seekor singa.
Kemudian, sang Nila Utama memberi nama daerah ini dengan sebutan Singapura
(kota singa)[1].
B. Masuknya islam dan
perkembangannya di singapur
Sampai sekarang, belum dapat ditemukan bukti-kukti yang jelas tentang
pertama kalinya islam masuk kesingapur, tetapi berdasarkan perkiraan , hal
tersebut terjadi pada masa aktifnya para pedagang muslim di malaka. Islam masuk
ke Singapur pada abad ke-8 karena pada abad tersebut para pedagang muslim telah
sampai kekeraton, cina, yang singgah di pulau-pulau yang telah berpenduduk di
Semenanjung tanah melayu[2].
Kedatangan
Islam ke Singapura tidak lepas dari datangnya Islam ke Asia Tenggara, khususnya
Indonesia dan Malaysia. Banyak beberapa ahli dan peneliti sejarah mengatakan
bahwa Islam datang ke daerah Asia Tenggara pada abad ke 7 dengan bukti adanya
cerita dari Cina yang berasal dari Zaman T’-Ang. Adapula yang mengatakan pada
abad ke 13 dengan bukti yaitu akibat adanya keruntuhan dinasti Abbasiyah oleh
bangsa Mogul pada tahun 1258, berita Marco Polo tahun 1292 dan Ibnu Battutah
abad ke 14 serta nisan-nisan kubur Sultan Malik as Saleh tahun 1292.[3] Adapun Islam datang
ke Singapura, Sharon Siddique seorang peneliti perkembangan Islam Singapura
mengatakan bahwa kaum Muslim datang ke Singapura sebagai pendatang. Akan tetapi
warisan budaya dan agama mereka sama dengan wilayah Melayu lainnya. Maka mereka
dianggap lebih sebagai pribumi atau setidaknya migran asli atau paling awal.[4] Pendapat lain mengatakan
bahwa sampai sekarang belum ditemukan bukti-bukti yang jelas kapanpertama Islam
masuk ke Singapura, tapi berdasarkan perkiraan sezaman dengan masa-masa
aktifnya para pedagang muslim berada di Malaka. Karena pada abad ke-8 para
pedagang muslim ini telah sampai ke Kanton, China, yang kemungkinan besar akan
singgah di pulau-pulau yang telah berpenduduk di semenanjung tanah Melayu.
Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi adalah salah salah satu pedagang muslim yang
berjasa menyebarkan Islam di tanah Melayu.[5]
C. Lembaga dan Aktivitas keagamaan
Islam Di singapura
Ada 15 persen penduduk Singapura
yang Muslim. Sebagian besar orang adalah Melayu. Pengikut lain termasuk
dari komunitas India dan Pakistan serta sejumlah kecil dari Cina, Arab dan
Eurasia. 17 persen dari Muslim di Singapura berasal dari India. Sementara
mayoritas Muslim di Singapura secara tradisional adalah Muslim Sunni yang mengikuti
mazhab Syafi'i, ada juga Muslim yang mengikuti mazhab Hanafi serta sedikit
Muslim Syiah.
Islam di Singapura tidak bisa
dipisahkan dari sejarah kolonial. Pada tahun 1915, penguasa kolonial Inggris
mendirikan Dewan Penasihat Islam. Dewan ini bertugas untuk memberikan nasihat
kepada penguasa kolonial mengenai hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam
dan adat-istiadatnya. Singapura sudah terkenal sebagai negara yang menjembatani
kepentingan Yahudi di Asia Tenggara. Tidak heran jika kemudian negeri ini
menjadi “basis” Yahudi di kawasan ini.[6]
Saat ini di Singapura terdapat 69
masjid. Semua masjid ini dibawah admistrasi MUIS sepenuhnya. Di
Singapura terdapat 6 madrasah yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan. Berikut ini keenam madrasah tersebut.
1. Madrasah Al-Arabiah Al-Islamiah.
2.
Madrasah
Al-Irsyad Al-Islamiah.
3.
Madrasah
Aljunied Al-Islamiah.
5.
Madrasah
Alsagoff Al-Arabiah (khusus putri).
6.
Madrasah
Wak Tanjong Al-Islamia.
Pada 1966, parlemen mengesahkan Administration of
the Muslim Law Act (AMLA). Undang-undang yang mulai berlaku pada 1968
tersebut menetapkan kewenangan dan yurisdiksi tiga lembaga Islam, yaitu Islamic Religious Council of Singapore atau
Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS), Syariah Court, dan
Registry of Muslim Marriages (ROMM).[7]
a.
Islamic Religious Council of Singapore
Islamic Religious
Council of Singapore atau Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS) merupakan
badan yang memiliki peran penting dalam urusan agama Islam. Fungsi
dan tugas Majlis Ugama Islam Singapura sebagai berikut.
1. Memberi saran kepada presiden Singapura dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan
agama Islam di Singapura.
2. Mengurusi masalah yang berkaitan
dengan agama Islam dan kaum muslimin di Singapura, termasuk urusan haji dan sertifikasi halal.
4. Mengelola pengumpulan zakat, infak, dan sedekah, untuk mendukung dan mensyiarkan agama
Islam atau untuk kepentingan umat Islam.
b. Syariah Court
(Pengadilan Syariah)
Pada 1880, pemerintah kolonial
Inggris mengeluarkan peraturan tentang pernikahan pemeluk Islam, yakni Mahomedan Marriage Ordinance.
Ordonansi ini mengakui status hukum pribadi kaum muslim di Singapura.
Pada 1958, berdasarkan Muslim
Ordinance (Ordonansi Muslim) 1957, didirikan Syariah Court (Pengadilan
Syariah), dengan kewenangan mendengarkan dan memutuskan perselisihan yang
berkaitan dengan pernikahan dan kasus perceraian pemeluk Islam.
Pengadilan ini menggantikan peran kadi (hakim Islam) yang
sebelumnya berwenang memberi keputusan dalam kasus perceraian dan warisan
dengan mengikuti tradisikelompok etnik tertentu atau penafsiran mereka terhadap
hukum Islam.
c. Registry of Muslim
Marriages (ROMM)
Registry of Muslim Marriages bertugas mencatat pernikahan
pasangan muslim (keduanya muslim). Pernikahan pasangan berbeda agama dicatat pada Registry of Marriages.
Sebelumnya, registrasi pernikahan
umat Islam juga perceraian, dilaksanakan dalam satu unit, yakni Syariah
Court. Registry of Muslim Marriages semula berkantor di sebuah rumah peristirahatan di Fort Canning, kemudian pindah ke
Canning Rise pada 1983[8]
D. Model Pendidikan Islam di Singapura
Sejarah awal munculnya pendidikan Islam di Singapura tidak
dapat diketahui dengan pasti. Yang jelas pendidikan islam telah ada pada pase
awal kedatangan Islam ke Singapura itu sendiri. Pendidikan islam di Singapura
di sampaikan para ulama yang berasal dari negeri lain di Asia Tenggara atau
dari Negara Asia Barat dan dari benua kecil India. Para ulama tersebut
diantaranya ialah Syaikh Khatib Minangkabau, Syaikh Tuanku Mudo Wali Aceh,
Syaikh Ahmad Aminuddin Luis Bangkahulu, Syaikh Syed Usman bin Yahya bin Akil
(Mufti Betawi), Syaikh Habib Ali Habsyi (Kwitang Jakarta), Syaikh Anwar
Seribandung (Palembang), Syaikh Mustafa Husain (Purba Baru Tapanuli),
Syaukh Muhammad jamil Jaho (Padang Panjang) dll. Seperti di Negara lain,
pendidikan agama Islam di Singpura dijalankan mengikuti tradisi dan system
persekolahan modern. System tradisional, mengikuti pola pendidikan Islam
berdasarkan system persekolahan pondok Malaysia dan Patani atau pesantren di
Indonesia. Adapun system modern adalah melalui system sekolah yang
merujuk ke Mesir dan Barat, yang dikenal dengan madrasah, sekolah arab
atau sekolah agama. Ada empat madrasah terbesar di Singapura sampai saat ini,
yaitu :
a.
Madrasah
al-Junied al-Islamiyyah, didirikan pada bulan muharam 1346H (1927M) oleh
pangeran Al-Sayyid Umar bin Ali al-Junied dari Palembang. Mata pelajaran yang
diajarkan dimadrasah ini adalah ilmu Hisab, Tarikh, Ilmu Alam, Bahasa Melayu,
Bahasa Inggris, Sains, Sastra Melayu dan mata pelajaran lainnya.
b. Madrasah al-Ma’arif, didirikan pada
tahun 1940-an. Pengasuh madrasah ini adalah lulusan universitas al-Azhar, Mesir
dan dari kawasan Asia Barat.
c. Madrasah Wak Tanjung Al-Islamiyyah,
didirikan pada tahun 1955.
d. Madrasah
Al-Sago (atau Al-Saqaf), didirikan pada tahun 1912 diatas tanah
yang diwaqafkan oleh Sed Muhammad bin Sed Al-Saqof.
Pada
kenyataannya, kemajuan sebuah Negara tidak lepas dari kondisi geografis dan
keadaan pendidikannya. Pendidikan merupakan standarisasi penilaian secara tidak
langsung yang dapat menjadi pertimbangan dalam mengkategorisasikan maju
tidaknya sebuah Negara. Demikian pula halnya Negara Singapura, dilihat
dari factor pendidikan tekanan bagi kaum muslim dan melayu di
Singapura sungguh-sungguh nyata.
Ini
terlihat dari meningkatnya pendidikan dan kemajuan ekonomi yang telah dicapai
orang-orang singapura lainnya khususnya orang-orang Cina yang mayoritas
dinegara itu. Tekanan tersebut nampak nyata dalam tulisan-tulisan dan
studi-studi yang dilakukan komunitas Muslim-Melayu sepanjang tahun 1980-an.
Dilatarbelakangi sensus penduduk 1980 yang menyatakan bahwa orang-orang Melayu
Singapura tertinggal di belakang etnis lain, dalam status social ekonomi,
diskursus public kembali diaktifkan organisasi-organisasi muslim seperti Majlis
Pusat untuk menggerakan pesan bahwa jalan keluar bagi kaum muslim
adalah meningkatkan pendidikan dan kompetensi professional. Sejalan
dengan seruan itu adalah himbauan dari pemimpin-pemimpin muslim dan
aktifitas-aktifitas yang berorientasi islam agar menanggulangi status social
ekonomi mereka dalam kerangka dan prinsip-prinsip islam.
Sejauh menyangkut masalah pendidikan walau
sejak tahun 1970-an pesan pentingnya pendidikan (khususnya pendidikan tinggi)
sebagai katalis bagi kehidupan yang lebih layak bagi etnis melayu telah
disuarakan oleh organisasiorganisasi Melayu, kembali di intensifkan pada tahun
1981. Pada tahun itu pula
didirikan majelis pendidikan anak-anak (MENDAKI) yang mengarahkan kegiatannya
pada masalah pendidikan bagi anak-anak muslim.
Pemimpin
melayu muslim sangat berhasil dalam menarik dukungan yang besar, bukan hanya
dari perhimpunan-perhimpunan atau kelompok-kelompok Melayu-muslim, tapi juga
dari pemerintah. Status majlis itu kemudian meningkat menjadi yayasan tahun
1982 setelah majelis sukses melaksanakan ‘Kongres tentang Pendidikan Anak-Anak Muslim,
suatu kesempatan dimana Perdan Menteri menyampaikan suatu key note addres
Disamping
itu pembentukan MENDAKI juga mempercepat kehadiran dan publikasi
bahan-bahan dan karya-karya yang terkait dengan pendidikan bagi minoritas
di Singapura. Walaupun karya-karya dalam bentuk buku masih langka, tersedia
makalah-makalah yang disajikakan dalam seminar dan konferenaikonferensim dan
artikel-artikel yang dipublikasikan oleh MENDAKI dan lembagalembaga muslim lainnya
seperti MUIS dan JAMIYYAH. MENDAKI misalnya, menerbitkan a collection of
mendake papers (1982), suatu kompilasi dari sekitar sepulus proyek yang
mencakup bermacam-macam masalah yang berkaitan dengan pendidikan bagi kaum
muslim, dan MUIS menerbitkan jurnal yang pertama kali tentang masalah-masalah
kaum muslim di Singapura, fajar islam tahun1988. Fajar islam diterbitkan,
menurut editornya, dengan tujuan untuk memahami perkembangan social ekonomi dan
politik yang mempengaruhi kaum muslim Singapura dan menelaahnya secara cermat,
obyektif dan analitik.
Mencermati
masalah keterpurukan pendidikan minoritas muslim (Melayu) dari
etnis Cina (non islam lain) di Singapura, terlihat bahwa etnis Cina cenderung memiliki
prestasi pendidikan, dimana dengan terdapatnya halangan dan rintangan dalam
pencapaian stabilitas sosio ekonomi seseorang individual melalui pendidikan
Singapura periode 1959-1980, dimana kondisi ekonomi etnis Cina memang sudah
mapan sebelum perang, akan diwarisi anak-anak mereka, sehingga pendidikan
mereka juga cenderung lebih tinggi dan lebih mapan, ditambah lagi basis bahasa
inggris yang mereka kuasai.
Hal
semacam ini, justru terdapat bagi kebanyakan etnis melayu (muslim), karena
pada periode 1960-1970 an, 60% perhasilan perkapital penduduk melayu
tergolong ekonomi lemah (rendah), sementara Cina hanya 40%
terkategorikan penduduk miskin.Kondisi dan akta ini, tentunya tercermin
pula dalam penyaluran pendidikan di antara anak-anak muslim dengan etnis cina
dalam rangka memasuki sekolah menengah. Pada tahun 1983 60% pelajar-pelajar
melayu disalurkan kealiran sekolah rendah (biasa), sedangkan etnis cina
sebanyak 40%. Selain jurang ekonomi yang mempengaruhi semua penduduk singapura
terdapat factor lain yang unik kepada orang melayu dan menyababkan merekan
lebih rugi dari pada orang cina.
Tahun
1965, kurang lebih 50% pelajar melayu mendaftarkan diri dalam program
pendidikan yang diajar dalam bahasa melayu. Sungguhpun pendidikan inggris cepat
sekali menjadi popular setelah kemerdekaan singapura dari Malaysia pada 1965,
para pelajar yang mulanya berbasis melayu, terpaksa mengundurkan diri.
Sedangkan para pelajar melayu yang layak dan cukup kredibel dalam memasuki
pendidikan menengah dipindahkan kealiran inggris dimana merekan tidak mempunyai
persediaan dan kesiapan dari segi bahasa. Bagi sebagian kecil pelajaran Melayu
yang layak ke Universitas banyak yang bingung dalam mengambil atau
memperdalamilmu mereka melalui kursus-kursus professional dan sains yang
semuanya diajar dalam bahasa inggis[9].
Mereka sama sekali tidak
diperkenangkan untuk mengambil kursus-kursus itu, sehingga ketika
mereka telah tamat dari Universitas dan ingin berkerja dengan melamarkan Ijazah
yang mereka peroleh, sering kali peluang bagi para siswa aliran Melayu mendapat
perlakuan yang kurang adil. Hal ini sebenarnya juga dialami oleh etnis Cina,
mereka juga diperlakukan sebagaimana etnis Melayu, akan tetapi keunggulan Cina
dari Melayu adalah mereka memiliki alternalif yang dapat menjembatani anak-anak
mereka untuk bekerja di sektor-sektor ekonomi yang menggunakan bahasa Cina.
Selain faktor-faktor ekonomi yang etnis
yang menjelaskan prestasi pelajarpelajar Melayu dibidang pendidikan kiranya
masih perlu dikaji menurut golongan etnis apakah kelemahan prestasi pendidikan
pelajar-pelajar Melayu berbeda jauh dari orang-orang Cina yang berpuncak dari
factor-faktor dalam budaya melayu sendiri. Dikalangan setengah elit Melayu
pemerintah dan orang Cina sungguh-sungguh percaya bahwa orang melayu kurang
kuat berkerja dan kurang berorientasikan pencapaian dalam pendidikan dan dalam
ekonomi secara umum dari pada orang Cina. Nilai-nilai
budaya yang tidak sesuai adalah sebab kenapa prestasi pendidikan dan ekonomi
mereka lemah. Budaya orang Cina dan budaya Melayu memiliki perbedaan dalam
menata pola urusan rumah tangga. Dalam budaya Cina, nilai pendidikan
bagi anak sangat dijunjung tinggi. Oleh karenanya
pendidikan anak-anak mereka harus diutamakan dan
diperhatikan secara serius, walau anak juga dilibatkan dalam urusan usaha menghasilkan
uang atau peningkatan ekonomi keluarga. Mungkin hal ini pula yang memicu
semangat orang-orang Cina untuk lebih berdikari dan lebih tinggi semangat
kemandiriannya jika dibandingkan dengan orang-orang Melayu. Semangat kerja ini,
akhirnya mendarah daging dalam menempuh jalur pendidikan sehingga dibidang
pendidikan pun, etnis Cina terlihat lebih unggul dari pada etnis melayu.
Keberadaan lembaga swadaya masyarakat Islam (LSM) juga tak kalah pentingnya
dalam upaya menjadikan muslim dan komunitas Islam negeri itu potret yang maju
dan progresif. Berbagai LSM Islam yang ada terbukti berperan penting dalam
agenda-agenda riil masyarakat muslim.
Saat
ini, tidak kurang dari sepuluh LSM, di antaranya adalah: Association of
Muslim Professionals (AMP),
Kesatuan Guru-Guru Melayu Singapura (KGMS), Muslim Converts Association
(Darul Arqam), Muhammadiyah, Muslim Missionary Soceity Singapore
(Jamiyah), Council for the Development of Singapore Muslim Community
(MENDAKI), National University Singapore (NUS) Muslim Society,
Perdaus (Persatuan dai dan ulama Singapura), Singapore Religious
Teachers Association (Pergas), Mercy Relief (Center for
Humanitarian), International Assembly of Islamic Studies (IMPIAN), dan
Lembaga Pendidikan Alquran Singapura (LPQS).
Seluruh lembaga dan sistem manajemen profesional ini
ditujukan bukan saja pada terbentuknya kualitas
muslim dan komunitas Islam yang maju, moderat dan
progresif, tetapi juga potret yang mampu berkompetisi dan meningkatkan
citraIslam di tengah pemandangan global yang kurang baik saat ini. Model
demikian inilah yang kini terus diperjuangkan agar Islam yang rahmat menjelma
dalam kehidupan masyarakat Singapura.
E. Kondisi
Pendidikan Masyarakat Islam di Singapura Saat Ini
Saat Negara Singapura
termasuk ketat dan cukup keras kepada para aktivis Islam. Mereka tak
segan-segan mendeportasi mahasiswa Islam yang dinilai mempunyai komitmen
terhadap perkembangan dakwah. Aktivitas keislaman di Singapura pun otomatis
tidak banyak. Dengan perkembangan seperti ini, sepertinya Islam di negeri Singa
ini tak bisa berkembang terlalu banyak. Namun bukan berarti orang-orang Islam
di sana pun berdiam diri. Hingga adzan bisa berkumandang di
Singapura. Perkembangan Islam itu terus menunjukkan peningkatan yang cukup
berarti. Hingga kini, pemeluk Islam di Singapura tercatat sebanyak 15 persen
dari jumlah penduduk keseluruhan (sekitar 650 ribu orang dari 3,5 juta jumlah
penduduk keseluruhan).
Jumlah demikian menempatkan muslim
Singapura, atau lebih dikenal sebagai muslim Melayu, pada urutan kedua setelah
etnis Cina 77 persen, dan India 8 persen. Di tengah sistem kehidupan sekuler
yang diterapkan pemerintah setempat, muslim Singapura terus berpacu
meningkatkan kualitas diri, agar mampu berkompetisi dengan lajunya kemajuan dan
zaman.
Sementara itu, dana bagi
pengembangan masjid dan madrasah, ada kasnya sendiri. Tidak lagi diambilkan
dari dana ZIS wakaf tersebut. Untuk madrasah ada kotak bernama "Dana
Madrasah". Sedangkan dana masjid diperoleh dari sumbangan kaum muslim,
khususnya kotak Jumat. Meski juga terkadang masih dapat bantuan dari dana ZIS
wakaf. Madrasah, masjid, dan LSM
Manajemen profesionalitas dalam
pemberdayaan potensi dan peningkatan kualitas umat bukan hanya terlihat pada
aspek ZIS wakaf. Ia juga tampak jelas dalam pengelolaan pendidikan (madrasah),
masjid, dan lembaga-lembaga swadaya Islam non-pemerintah (NGO). Lembaga
pendidikan Islam (madrasah) dikelola secara modern dan profesional, dengan
kelengkapan perangkat keras dan lunak. Dari seluruh madrasah Islam (sebanyak
enam buah, seluruhnya di bawah naungan MUIS), sistem pendidikan diterapkan
dengan memadukan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Keenam madrasah itu adalah
madrasah Al-Irsyad Al-Islamiah, madrasah Al-Maarif Al-Islamiah, madrasah
Alsagoff Al-Islamiah, madrasah Aljunied Al-Islamiah, madrasah Al-Arabiah
Al-Islamiah, dan madrasah Wak Tanjong Al-Islamiah.
Waktu penyelenggaraan belajar
mengajar dimulai dari pukul 08.00 hingga 14.00. Lama waktu ini juga berlaku di
sekolah-sekolah umum dan non-madrasah. Agar tidak ketinggalan dengan kemajuan
teknologi, maka di setiap madrasah dibangun laboratorium komputer dan internet,
serta sistem pendukung pendidikan audio converence. Selain dilengkapi fasilitas
internet, setiap madrasah juga mempunyai server tersendiri bagi pengembangan
pendidikan modern. Murid dibiasakan dengan teknologi, terutama teknologi
internet. Setiap hari, mereka diberi waktu dua jam untuk aplikasi dan
pemberdayaan internet. Sayangnya, pendidikan Islam baru ada dalam institusi TK
hingga madrasah Aliyah (SMU). Untuk perguruan tingginya hingga kini belum ada.
Aktivitas lainnya, diskusi berbagai
masalah kontemporer dan keislaman. Diskusi ini biasanya diadakan oleh
organisasi remaja di setiap masjid. Dewan pengurus setiap masjid juga menerbitkan
media (majalah dan buletin) sebagai media dakwah dan ukhuwah sesama muslim.
Berbeda dengan di negara lainnya, para pengurus masjid digaji khusus, dan
memiliki ruangan pengurus eksekutif laiknya perkantoran modern[10].
Keberadaan lembaga swadaya
masyarakat Islam (LSM) juga tak kalah pentingnya dalam upaya menjadikan muslim
dan komunitas Islam negeri itu potret yang maju dan progresif. Berbagai LSM
Islam yang ada terbukti berperan penting dalam agenda-agenda riil masyarakat
muslim.
Menyadari hal ini, pemerintah dan tokoh-okoh Islam di
Singapura mengadakan berbagai upaya peningkatan berbagai aspek, sehingga pada
saat ini masyarakat muslim Singapura sudah banyak yang berpendidikan formal dan
bahkan ada pula yang mendapatkan gelar Ph.D.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Singapura terletak tepat di
ujung pantai selatan Semenanjung melayu, yang terpisah dari daratan Semenanjung
Malaka (Johor) oleh Selat Johor, dan dihubungkan oleh sebuah tambak yang
bernama tambak Johor.
Sampai sekarang, belum dapat ditemukan bukti-kukti yang jelas tentang
pertama kalinya islam masuk kesingapur, tetapi berdasarkan perkiraan , hal
tersebut terjadi pada masa aktifnya para pedagang muslim di malaka. Islam masuk
ke Singapur pada abad ke-8 karena pada abad tersebut para pedagang muslim telah
sampai kekeraton, cina, yang singgah di pulau-pulau yang telah berpenduduk di
Semenanjung tanah melayu.
DAFTAR PUSTAKA
Acep Ahmad
Hidayat, M. Ag., dkk. 2014, Studi Islam di Asia Tenggara, Bandung, CV: Pustaka Setia.
Ajid Thohir, Studi Kawasan Dunia
Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009).
Iik Arifin Mansurnoor dan Dadi
Damadi, “Minoritas Islam” dalam Ensklopedi Tematis Dunia Islam: Asia
Tenggara, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002).
Musthafa dan
Abdullah Aly, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Bandung:
Pustaka Setia, 1998).
Saifullah, Sejarah
dan Kebudayaan Islaam di Asia Tenggara, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2010).
Sartono Kartodirjo, Sejarah
Nasional Indonesia, jilid III (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1975).
[1]
Acep Ahmad Hidayat, M. Ag., dkk. 2014, Studi
Islam di Asia Tenggara, Bandung, CV:
Pustaka Setia, Hlm.
[2]
Ibid.
[3]
Sartono Kartodirjo, Sejarah Nasional Indonesia, jilid III
(Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1975) hlm. 110
[4]
Iik Arifin Mansurnoor dan Dadi Damadi, “Minoritas Islam”
dalam Ensklopedi Tematis Dunia Islam: Asia Tenggara, (Jakarta:
Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002) hlm. 458
[5]
Ajid Thohir, Studi Kawasan Dunia Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2009),hlm. 379
[6]
Musthafa dan Abdullah Aly, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia,
(Bandung: Pustaka Setia, 1998), hlm. 97
[7]
Saifullah, Sejarah dan Kebudayaan Islaam di Asia Tenggara,
(Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 113
[8]
Ibid.
[9]
Ibid.
[10]
Ibid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar