Senin, 18 Desember 2017

BAB II PEMBAHASAN HADIST DALAM MASA KEENAM (DARI AWAL ABAD KE-IV HINGGA TAHUN 656 H)

BAB II PEMBAHASAN
HADIST DALAM MASA KEENAM (DARI AWAL ABAD KE-IV
HINGGA TAHUN 656 H)
(Masa Tahdzib, Istikhraj, menyusun Jawami’, Zawa-id dan Athraf)
A.  Mutaqaddimin dan Mutaakhirin
Ulama-ulama hadist dalam abad kedua dan ketiga, digelari “mutaqaddimin”, yang mengumpulkan hadist dengan semata-mata berpegang kepada usaha sendiri dan pemeriksaan sendiri; dengan menemui para penghafalnya yang tersebar disetiap pelosok dan menuju negara Arab, Parsi dan lain-lainnya.
Maka setelah abad ketiga berlalu bangkitlah pujangga-pujangga abad keempat. Ahli abad keempat ini dan seterusnya digelari “mutaakhirin”. Kebanyakan hadist yang mereka kumpulkan, adalah petikan atau nukilan dari kitab-kitab mutaqaddimin itu, sedikit saja dari padanya yang dikumpukan dari usaha mencari sendiri kepada para penghafalnya.
Ahli hadist sesudah abad ke tiga tidak banyak lagi yang mentakhrijkan hadist. Mereka hanya berusaha mentahdzibkan kitab-kitab yang telah ada, menghafalnya dan memeriksa sanad yang ada didalam kitab-kitab yang telah ada itu.
Dalam abad keempat ini lahirlah fikiran mencukupi dalam meriwayatkan hadist dengan berpegang kepada kitab saja, tidak melewat ke sana ke sini lagi.
Menurut riwayat, Ibnu Mandah, adalah ulama yang terakhir yang mengumpulkan hadist dengan jalan lawatan.
Para ulama hadist berderajat-derajat kedudukannya. Ada di antara mereka yang dapat menghafal 100.000 hadist, yang karena itu mereka dinamai “hafidh”, Ada yang menghafal 300.000 hadist, dan mendapat nama “hujjah” sedangkan yang lebih dari jumlah itu digelari “hakim”.
Adapun Al Bukhary, Muslim, Ahmad, Sufyan Ats Tsaury dan Ishaq Ibnu Rahawaih dikalangan mutaqaddimin dan Ad Daraquthny dikalangan mutaakhirin digelari “Amiru’l-Mu’minin fi’l-Hadist”.
Dengan usaha-usaha Al Bukhary, Muslim dan Imam-imam lain itu, seluruh abad ke tiga, terkumpullah jumlah yang sangat besar dari hadist-hadist yang shahih. Sedikit sekali hadist-hadist shahih yang tak terkumpul dalam kitab-kitab ahli hadist abad ke tiga, yang diusahakan mengumpulkannya oleh ahli-ahli hadist abad ke-empat.

B.  Kitab-kitab yang mengumpulkan hadist-hadist shahih yang tidak terdapat dalam kitab-kitab shahih abad ke tiga (kitab enam)
1. Ash Shahih, susunan Ibnu Khuzaimah
2. At Taqsim wal anwa’, susunan Ibnu Hibban
3. Al Mustadrak, susunan Al Hakim
Akan tetapi perlu ditegaskan bahwa kitab yang tiga buah ini tidak sama derajatnya. Yang tertinggi dari ketiga kitab ini, ialah: Shahih Ibnu Khuzaimah. Di bawahnya, shahih Ibnu Hibban dan dibawahnya, shahih Al Hakim.
Kemudian perlu diketahui bahwa hadist yang perlu di Shahihkan oleh Ibnu Hibban sendiri, tak dapat terus diterima, karena beliau ini dipengaruhi oleh sifat bermudah-mudah dalam menshahihkan hadist.
Demikian juga halnya dengan hadist-hadist yang hanya di shahihkan oleh Al Hakim.
Kata setengah ulama: “Hadist-hadist yang hanya di tashihkan Al Hakim sendiri, hendaklah diperiksa lebih dulu, jangan terus dipergunakan. Sesudah diperiksa, barulah diberikan hukum shahih kalau hasan, menurut kehendak putusan penyelidikan yang sehat dan jujur serta hati-hati”.
Adz Dzahaby, seorang Imam hadist telah mengoreksi dengan teliti hadist-hadist yang di tashihkan oleh Al Hakim. Pergunakanlah kitab Adz Dzahaby dalam berhujjah dengan hadist-hadist Al Hakim ini.
4. Al Shahih, susunan Abu ‘Awanan
5. Al Muntaqa, susunan Ibnu Jarud
6. Al Mukhtarah, susunan Muhammad ibn Abdul Wahid Al Maqdisy
Dalam kitab-kitab yang enam ini, kita memperoleh hadist-hadist yang shahih yang tidak terdapat dalam kitab-kitab Shahih yang disusun oleh ahli abad ke tiga: oleh kitab enam itu.

C.  Cara Menyusun Kitab-kitab Hadist
1. Kitab-kitab Shahih dan Sunnah, disusun dengan dasar membagi kitab-kitab itu kepada beberapa kitab dan tiap-tiap kitab dibagi kepada beberapa bab: umpamanya bab thaharah – bab wudhu – bab shalat dan seterusnya. Maka tiap-tiap hadist yang berpautan dengan thaharah dimasukkan ke dalam bab thaharah, demikian selanjutnya.
2. Kitab Musnad, disusun menurut para perawi pertama, perawi yang menerima dari Rasul. Maka segala hadist yang diriwayatkan oleh Abu Bakar, umpamanya, diletakkan dibawah nama Abu Bakar.
Tegasnya, nama perawi yang menjadi titel bab mencari sesuatu hadist dalam kitab ini amat sulit. Akan tetapi dengan terbitnya kitab “Miftah kunuzi As-Sunnah”, “Al Mu’jamul Mu-fahras” dan “Taisirul Manfa’ah”, kesukaran ini menjadi hilang.
3. Ibnu Hibban, menyusun kitabnya dengan jalan membagi hadist kepada lima bagian:
Pertama       -    bagian suruhan
Kedua         -    bagian tegahan
Ketiga        -    bagian khabar
Keempat       -    bagian ibadat
Kelima        -    bagian af’al (pekerjaan)
Mencari hadist dalam kitab ini membutuhkan waktu yang panjang.
4. Ada juga penyusun yang menyusun kitabnya secara kamus, memulainya dengan hadist yang berawalan a-i-u, kemudian yang berawalan b, demikian seterusnya, seperti kitab Al Jami’ush Shaghir susunan As Sayuthy.

D.  Masa memperbaiki susunan kitab-kitab Hadist
Di atas telah diterangkan bahwa Az Zuhry telah mulai membina perbendaharaan hadist dalam permulaan abad ke dua, yang kemudian secara berangsur-angsur disempurnakan oleh ahli-ahli abad kedua, ketiga dan keempat.
Pada akhir abad keempat itu, selesailah pembinaan hadist, cukuplah terkumpul seluruh hadist yang diterima dari Nabi dengan berbagai-bagai jalan dalam buku-bukunya yang sudah diterangkan, dan terhentilah kesungguhan yang telah diberikan
1. Tabrizy dan kitab itu dinamai Misykatul-Mashabih. Di antara yang mensyarahkan Al Misykah ini, ialah Al Baidlawy (685).
2. Jami’ul Masanid wal Alqab, oleh Abdur Rahman Ibn Ali Al Jauzy 597). Kitab ini telah diterbitkan isinya oleh Al Muhibbu’th-Thabary (964).
3. Bahrul Asanid, oleh Al Hafidh Al Hasan ibn Ahmad Al Samarqandy (491 H). Didalam nya terdapat 100.000 buah hadist.
Diantara kitab-kitab yang mengumpulkan kitab-kitab hadist hukum ialah:
1.  Muntaqal Akhbar, oleh Majduddin ibn Taimiyah Al Harrany (652), yang telah disyarahkan oleh Asy Syaukany (1250), dalam kitabnya Nailul Authar
2.  As Sunanul Kubra oleh Al Baihaqy (458)
3.  Al Ahkamus Sughra, oleh Al Hafidh Abu Muhammad Abduh Haq Al Asybily (Ibnu Kharrat) (458)
4. Umdarul Ahkam, oleh Abdul Ghany Al Maqdisy (600), yang telah di syarahkan oleh Ibnu Daqiqil’Id, dalam kitab Ihkamul Ahkam.
Diantara kitab-kitab yang mengumpulkan hadist-hadist targhib dan tarhib, ialah:
Al Targhib wal Tarhib oleh Al Mundziry (656).
Dalam masa ini pula timbul usaha menyusun kitab-kitab Athraf, yaitu: kitab yang hanya menyebut sebagai hadist kemudian mengumpulkan seluruh sanadnya, baik sanad sesuatu kitab ataupun sanad dari beberapa kitab.

Diantara kitab Athraf, ialah:
1.  Athrafu ‘sh-Shahihain, oleh Ibrahim Ad Dimasyqy (400)
2.  Athrafu ‘sh-Shahihain, oleh Abu Muhammad Khalf ibn Muhammad Al Wasithy (401)
3.  Athrafu ‘sh-Shahihain, oleh Abu Nu’aim Ahmad Ibn Abdillah Al Ashfahany (430)
4.  Athrafu ‘sh-Sunanil Arba’ah, oleh ibn Asakir Ad Dimasyqy (571), yang dinamai dengan Al Isyraf ‘ala Ma’ri fatil Athraf
5.  Athrafu ‘I-Kutubi Sittah, oleh Muhammad ibn Tahir Al Maqdisy (507)
Kitab ini telah ditertibkan isinya oleh Al Hafidh Syamsuddin Muhammad ibn Ali Ibnul Husain Al Husainy (765).

E.  Kitab-kitab Istikhraj dan Istidrak
Diantara usaha-usaha yang lahir dalam masa ini, ialah: usaha-usaha istikhraj.
Istikhraj ialah: mengambil sesuatu hadist dari Al Bukhary Muslim umpamanya, lalu meriwayatkannya dengan sanad sendiri, yang lain dari sanad Al Bukhary atau Muslim itu. Dan kadang-kadang para mustakhrij meninggalkan hadist-hadist yang terdapat dalam Al Bukhary atau Muslim karena tidak memperoleh sanad sendiri.
Kitab-kitab itu dinamai kitab-kitab mustakhrij.
Banyak ulama telah berusaha menyusun istikhraj terhadap Shahih Bukhary dan Shahih Muslim dan lain-lain.
Diantaranya ialah: Mustakhraj Shahih Al Bukhary oleh Al Hafidh Al Jurjany
Mustakhraj Shahih Al Bukhary, oleh Al Hafidh Abu Bakr Al Barqany (425 H).
Mustakhraj Shahih Al Bukhary, oleh Al Hafidh Ibnu Mardawaih (416 H).
Mustakhraj Shahih Al Bukhary, oleh Al Ghatrify (377 H)
Mustakhraj Al Harawy (378 H).

Dan diantara mustakhraj Shahih Muslim, ialah:
Mustakhraj Shahih Muslim, oleh Al Hafidh Abu ‘Awanah (316 H).
Mustakhraj Shahih Muslim, oleh Al Hafidh Abu Bakr Muhammad Ibnu Raja.
Mustakhraj Shahih Muslim, oleh Al Hafidh Al Jauzaqy (388 H).
Dan Mustakhraj yang mengistikhrajkan Shahih Bukhary dan Muslim, ialah:
Mustakhraj Al Bukhary dan Muslim oleh Hafidh Muhammad Ibn Ya’qub yang terkenal dengan nama Ibnu Akhram.
Mustakhraj Al Bukhary dan Muslim oleh Abu Dzar Al Harawy (343 H).
Mustakhraj Al Bukhary dan Muslim, oleh Al Khallal (439 H).
Mustakhraj Al Bukhary dan Muslim, oleh Abu Nu’aim Al Asbahany (430 H).
Mustakhraj Al Bukhary dan Muslim, oleh Abu Bakr ibn Abdan As Sizary (388 H).
Mustakhraj Sunan Abu Daud, oleh Muhammad Ibn Abdil Malik.
Mustakhraj Sunan At Turmudzy, oleh Abu ‘Ali Ath Thusy.
Mustakhraj Al Hakim, oleh Abdul Fadli Al Traqy.
Dan di antara usaha-usaha yang lahir pula dalam masa ini, ialah usaha istidrak.
Istidrak, ialah: mengumpulkan hadist-hadist yang memiliki syarat-syarat Bukhary dan Muslim atau syarat salah seorangnya yang kebetulan tidak diriwayatkan atau di shahihkan oleh beliau-beliau ini.
Kitab-kitab ini mereka namai: jitab mustadrak.
Diantaranya:
Al Mustadrak, oleh Al Hakim.
Al Ilzamat, oleh Ad Daraquthny
Al Mustadrak, oleh Abu Dzar Al Harawy.

F.  Kitab-kitab Sunnah yang termasyhur dalam abad keempat.
1.    Al Mu’jamal Kabir          susunan Ath Thabarany
2.    Al Mu’jamal Ausath              susunan Ath Thabarany
3.    Al Mu’jamal ‘sh-Shaghir         susunan Ath Thabarany
4.    Al Mustadrak               susunan Al Hakim
5.    Al Shahih                  susunan Ibnu Khuzaimah
6.    Al Taqsim wal Anwa’        susunan Abu Hatim Ibnu
Hibban
7.    Al Shahih                  susunan Abu ‘Awanah
8.    Al Muntaqar                susunan Ibnu s-Sakan
9.    Al Sunan                        susunan Ad Daraquthny
10.  Al Mushannaf               susunan Ath Thahawy
11.  Al Musnad                  susunan Ibnu Nasher Al Razy
Ibnu Mundzir
12.  Al Muntaqa                 susunan Qasim ibn Ashbagh
13.  Al Musnad                  susunan Ibnu Jami’ Muhammad
Ibnu ahmad
14.  Al Musnad                  susunan Muhammad ibn Ishaq
15.  Al Musnad                  susunan Al Khuwarizmy
16.  Al Jam’ubaini ‘as-Shahihain susunan Muhammad ibn Abdil-
lah Al Jauzaqy.

G.  Kitab-kitab yang lahir dalam abad kelima
As sunnah Al-kubra, merupakan kitab yang paling terkenal dalam abad ke lima. Kitab ini disusun oleh Al Imam Al Baihaqy (458 H), sebuah kitab hadist hukum yang luas dan baik serta mendapat perhatian yang besar dari para ulama.
Kitab Ibnu sh’-Shalah: “Tak ada sebuah kitab hadist yang lebih lengkap dan mengandung hadist-hadist hukum dari pada sunan ini”.
Kitab ini diterbitkan di India, dengan disertai fihris nama-nama sahabat dan tabi’in.
Al Baihaqy mempunyai juga sebuah kitab hadist lagi, yang dinamai: As Sunanu’sh-Shughra.
Dan diantara kitab yang diusahakan oleh ulama abad kelima yang mengumpulkan hadist-hadist yang terdapat dala Al Bukhary/Muslim, kitab-kitab enam dan lain-lain, antara lain ialah:
1. Al Jami’baina ‘sh-Shahihain, susunan Ismail ibn Ahmad yang terkenal dengan nama Ibnu Furat (414 H).
2. Al Jami’baina ‘sh-Shahihain, susunan Muhammad Ibn Abi Nashr Al Humaidy Al Andalusy (448 H).
3. Bahrul Asanid, susunan Al Hafidh Al Hasan Ibn Ahmad Al Samarqandy (419 H). Di dalamnya dikumpulkan 100.000 buah hadist dengan tertib yang baik.
4. ‘Umdatul Ahkam, susunan Al Hafidh Abdul Ghany Abu Abdil Wahid Al-Maqdisy (600 H). Didalamnya dikumpulkan hadist hukum yang disepakati oleh Al Bukhary/Muslim. Kitab ini telah disyarahkan secara ringkas oleh Ibnu Daqiqil’-Id, yang bernama: Ahkamul Ahkam.
5. Al Ahkamu ‘sh-Shughra, susunan Abu Muhammad Abdul Haq yang terkenal dengan nama Ibnul Kharrat.

H.  Kitab-kitab yang Lahir dalam abad keenam
1. Al Jami’u bani ‘sh-Shahihain, susunan Muhammad ibn Ishaq Al Asyabily (583 H.).
2. Tadriju ‘sh-shihah,susunan abdul hasan Muhammad ibn Razim ibn Mu’awiyah Al Sarqasthy (535 H). Kitab ini disempurnakan dengan diberi syarah ringkas, istimewa mengenai lafal-lafal hadist oleh Al Imam Ibnu Atsir Al Jazairy Asy Syafi’y. Kitab syarah ini dinamai Jami’ul Ushul. Alhamdulillah kitab ini telah dicetak di Mesir pada masa akhir-akhir ini dengan ditahqiqkan oleh Al Ustadz Muhammad Hamid Al Faqy.
Kitab ini melengkapi kitab-kitab Imam Al Bukhary – Muslim – Abu Daud – At Turmudzy – An Nasa-y dan Al Muwaththa’.
Kitab ini telah dikhisarkan oleh beberapa ulama. Di antaranya Ibnu Daiba’ Asy Syaibany Az Zabidy (944 H) dalam kitabnya: Taisiruh Wushul ila Jami’al Ushul.
Untuk menyempurnakan isi Al Jami’ ini telah berusaha Abu Bakr Thahir Muhammad Ibn Ya’qub Al Fairuzabady (818 H), menyusun kitabnya Thasilul Wushul ilal ahadist Az Zaidah ‘ala Jami’il Ushul.

Jika ada pada kitab-kitab Jami’ dan Thasil ini boleh kita anggap bahwa kita seakan-akan telah menyimpan segala kitab hadist.
3. Al Jami’u baina sh-Shahihain susunan Muhammad Ibn Ishaq Al Asybily, (583 H).
4. Al Jami’u Baina sh-Shahihain, susunan Abdul Haq ibn Abdir Rahman Al Asybily yang terkenal dengan nama Ibnu Kharrat.
5. Mashabihu ‘sh-Sunnah, susunan Al Imam Husain Ibn Mas’ud Al Baghawy (516 H). Didalamnya terkumpul 4484 buah hadist yang shahih, dan Hasan serta diterangkan hadist-hadist yang tidak dapat dijadikan hujjah. Kitab Al Mashabih ini dapat perhatian besar. Kitab ini telah disempurnakan oleh Muhammad Ibn Abdullah Al Khatib At Tabrizy dalam tahun 737 H. Dan dinamai Mishkatul Mashabih yang telah di syarahkan oleh beberapa orang ulama.

I. Tokoh-tokoh Hadist dalam masa keenam
1. Ibnu Khuzaimah
2. Al Hakim
3. Ibnu Hibban
4. Ad Daraquthny
5. Ath Thabarany
6. Al Qasmy ibn Qatlubagha
7. Ibnu ‘s-Shakan
8. Ath Thahawy
9. Al Baihaqy
10. Ismail Ibn Ahmad Ibnul Furat
11. Muhammad Ibn Nashr Al Humaidi
12. Al Baghawy
13. Muhammad ibn Ishaq Al Asybily
14. Ahmad Ibn Muhammad Al Qurtuby (Ibnu Hujjah)
15. Razin Ibn Muawiyah Al ‘abdary As Sarqasty
16. Ibnul At Sir Al Jazary
17. Abdur Rahman Ibnul Jauzy
18. Al Hasan ibn Ahmad As Samarqandy
19. Abdul Ghany ibn Abdul Wahid Al Makdisy
20. Abdul Adhim ibn Abdul Qawy Al Mundziry
21. Ibrahim ibn Muhammad Al Maqdisy
22. Abi Muhammad Khalf ibn Muhammad Al Wasithy
23. Abu Nu’aim Ahmad ibn Abdillah Al Ashbahany
24. Ibnu Asakir
25. Syamsuddin ibn Muhammad Al Husainy

HADIST DALAM MASA KETUJUH (656 H – SEKARANG).
A.  India dan Mesir memegang peranan penting dalam Perkembangan Hadist
Mulai dari masa Baghdad di hancurkan oleh Hulagu Khan, berpindahlah kegiatan perkembangan Hadist ke Mesir dan India. Dalam masa ini banyaklah kepala-kepala pemerintahan yang berkecimpung dalam bidang ilmu hadist seperti Al Barquq.
Disamping itu tak dapat dilupakan usaha ulama-ulama India dalam mengembangkan kitab-kitab hadist. Banyak benar kitab-kitab hadist yang terkembang dalam masyarakat ummat Islam dengan usaha penerbitan yang dilakukan oleh ulama-ulama india. Merekalah yang menerbitkan kitab ‘ulumul Hadist’ karangan Al Hakim.
Pada masa akhir-akhir ini berpindah pula kegiatan itu ke daerah kerajaan Saudi Arabia.

B.  Jalan-jalan yang ditempuh dalam masa ini
Jalan-jalan yang ditempuh oleh ulama-ulama dalam masa yang ketujuh ini, ialah: menertibkan isi kitab-kitab hadist, menyaringnya dan menyusun kitab-kitab takhrij, serta membuat kitab-kitab Jami’ yang umum, kitab-kitab yang mengumpulkan hadist hukum, mentakhrijkan hadist-hadist yang terdapat dalam beberapa kitab, mentakhrijkan hadist-hadist yang terkenal dalam masyarakat dan menyusun kitab Athraf.
Di antara kitab-kitab yang disusun dalam periode ini, ialah:
1. Kitab-kitab Zawaid
Dalam periode ini barulah ulama mengumpulkan hadist-hadist yang tak terdapat dalam kitab-kitab yang sebelumnya kedalam sebuah kitab yang tertentu. Kitab-kitab itu mereka namai: Kitab Zawaid.
Diantara kitab Zawaid yang terkenal ialah:
1. Kitab Zawaid sunan Ibnu Majah (yakni hadist-hadist yang diriwayatkan oleh ibnu Majah yang tiada terdapat dalam kitab-kitab yang lain).
2. Kitab Ith-haful Maharah bi zawaidil Masanidil ‘Asyrah.
3. Kitab Zawaid As Sunanil Kubra, yaitu hadist-hadist yang tak terdapat dalam kitab enam.
Ketiga kitab ini disusun oleh Al Bushiry (840 H).
4. Kitab Al Mathalibul ‘Aliyah fi Zawaidil Masanadi ‘I-Tsamaniyah, susunan Al Hafidh Ibnu Hajar (852 H).
5. Majma’uz Zawaid, susunan Al Hafidh Nuruddin Abul Husain Al-Haitsamy (807 H).
Dan banyak lagi kitab-kitab zawaid yang lain.
2. Kitab-kitab Jawami’ yang umum
b.  Kitab Jamiul Masanid Was Sunnan Al Hadi i Akwami Sanan, karangan Al Hafidh ibn Katsir (774 H).
c.  Jamiul Jawami’, susunan Al Hafidh As Sayuthy, (911 H).

3. Kitab-kitab yang mengumpulkan hadits-hadits hukum
a. Kitab Al Imam fi ahaditsil Ahkam, susunan Ibnu Daqiqil ‘Id (702 H)
b. Kitab Taqribul Asanid Wa Tartibul Masanid, susunan Zainuddin Al ‘Iraqy (806 H).
c. Kitab Bulughul Maram min Ahaditsil Ahkam, oleh Al Hafidh Ibnu Hajar Al Asqalany (852 H).

4. Kitab-kitab Takhrij
a. Takhrij Ahadist Tafsir Al Kasysyaf, karangan Al Zayla’y (762 H)
b. Al Khafisi Syafi’ Takhriji Ahadidsy Kasysyaf oleh ibnu Hajar Al Asqalany. Dalam kitab ini ditakhrijkan hadist-hadist yang lupa ditakhrijkan oleh Al Zaila’y
c. Takhrij Ahadidsil Syarah Maanil Atsar karangan Ath Thahawy. Kitab ini dinamai Al Hawy
d. Takhrij Ahadidsil Baylawy, oleh Abdul Rauf Al Manawy
e. Tuhfatur Rawy Fi Takhriji Ahadidsil Baidlawy oleh Muhammad Hammad Zadah (1175 H).
f. Takhtij Ahadidsil Azkhar oleh ibn Hajar Al Asqalany
g. Takhrij Ahadidsil Mishbah Wal Misykhah yang dinamai Hijayatur Ruwah Ila Takhriji Ahadidsil Mashabih Wal Misykhah
h. Manahilus Safa Fi Takhriji Ahadidsi Syifah oleh As Sayuthy
i. Takhrij Ahadist min Hajil Ushul oleh As Subhqy dan Ibn Mulaqqin dan oleh Zainuddin Al Iraqy
j. Takhrij Ahadist Mukhtashar. Karangan ibnul Hajib, ibnu Hajar, Ibnul Mulaqqin dan Muhammad Ibn Abdil Hadi (704 H)
k. Takhrih Ahadidsil Hidayah fi fiqhil Hanafiyah’ oleh Jamaluddin Al Zaila’y yang dinamai Nashbur rayah li ahaditsil Hidayah
l. Ad Dirayah fi Muntakhaby Takhriji Ahaditsil Hidayah oleh ibn Hajar
m. Takhrij ahaditsil ihya oleh Zainuddin Al ‘iraqy

5. Kitab-kitab Takhrij Hadist yang terkenal dalam maysarakat
a. Al Maqasidul Hasanah, oleh As Sakhawy
b. Tashilus Subul ila Kasyfillibas, oleh ‘izzuddin Muhammad Ibn Ahmad Al Khalili (507 H)
c. Kasyful Khafak Wa Muzilul Albas, oleh Hafidh Al Ajaluny (1162 H). Kitab ini amat bermanfaat


6. Kitab-kitab Athraf
a. It-Haful Maharah biathrafil ‘asyarah, oleh ibnu Hajar Al Asqalany
b. Athraful Musnad Al Mu’taly bi Athrafil Musnadil hambaly, oleh Ibn Hajar
c. Athraful Ahadidsul Mukhtarah, oleh ibn hajar Al Asqalany
d. Athraful Musnadil firdaus ditulis oleh Ibnu Hajar
e. Athraful Shahih ibn Hibban oleh Al ‘iraqy
f. Athraful Masanidyl Asyarah oleh Syihabuddin Al Bushiry

C. Tokoh-tokoh Hadist dalam masa ini
1. Az Zahaby (748 H)
2. Ibnu Saiyidinas (734 H)
3. Mughlathai (862 H).

D.  Kitab-kitab Hadist yang disusun dalam abad ke 7 H
1. At Tharghib
2. Al Jami’ baynash Shahihain
3. Muntaqal Akbar fil Ahkami
4. Al mukhtarah
5. Riyadlus Shalihin
6. Al Arbain

E.  Kitab-kitab hadist yang disusun dalam abad ke 8 H
1. Jami’ul Masanid was Sunan Al Hadi ila aqwami sanan susunan Al Hafidh Ibnu Katsir (774 H)
2. Al Imam fi ahaditsil Ahkam, susunan Al imam Ibnu Daqiqil ‘Ied (702 H). Kitab ini telah disyarahkan oleh pengarangnya dalam kitabnya Al Imam.

F.  Kitab-kitab yang disusun dalam abad ke 9 Hijrah.
1. Ith-haful Khiyar bi zawaidil masanidil asyrah, susunan Muhammad ibn Abu Bakar Al Baghawy (804 H).
2. Bulughul Marami, susunan Al Hafidh Al Asqalany.
3. Majma’uzzawaid wa Mamba’ul fawaid, susunan Al Hafidh Abil Hasan ‘Ali ibn Bark ibn Sulaiman Asy Syafi’y Al Haitamy (1303 H).

G.  Kitab-kitab yang disusun dalam abad ke 10 Hijrah.
1. Jam’ul Jawami’, susunan Al Hafidh As Sayuthy.
2. Al Jami’ush Shaghir min Ahaditsil Basyirin Nadzir, susunan As Sayuthy.
3. Lubabul Hadist, oleh As Sayuthy
Kitab ini telah disyarahkan oleh Muhammad Nawawy dalam kitab Tanqihul Qaulil Hadist.




BAB III
PENUTUP
KESIMPILAN
Dalam abad keempat ini lahirlah fikiran mencukupi dalam meriwayatkan hadist dengan berpegang kepada kitab saja, tidak melewat ke sana ke sini lagi.
Menurut riwayat, Ibnu Mandah, adalah ulama yang terakhir yang mengumpulkan hadist dengan jalan lawatan.
Para ulama hadist berderajat-derajat kedudukannya. Ada di antara mereka yang dapat menghafal 100.000 hadist, yang karena itu mereka dinamai “hafidh”, Ada yang menghafal 300.000 hadist, dan mendapat nama “hujjah” sedangkan yang lebih dari jumlah itu digelari “hakim”.
Dan Jalan-jalan yang ditempuh oleh ulama-ulama dalam masa yang ketujuh ini, ialah: menertibkan isi kitab-kitab hadist, menyaringnya dan menyusun kitab-kitab takhrij, serta membuat kitab-kitab Jami’ yang umum, kitab-kitab yang mengumpulkan hadist hukum, mentakhrijkan hadist-hadist yang terdapat dalam beberapa kitab, mentakhrijkan hadist-hadist yang terkenal dalam masyarakat dan menyusun kitab Athraf.



DAFTAR PUSTAKA
Ash, Shiddie, Hasbi, 1993, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadist, Jakarta: Pt. Bulan Bintang, cetakan ke-11.
Ichwan, Mohammad Nor. 2013. Membahas Ilmu-Ilmu Hadis. Semarang: Rasail Media Group.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar