Senin, 18 Desember 2017

BAHASA MELAYU DAN BAHASA INDONESIA

BAB II
PEMBAHASAN
BAHASA MELAYU DAN BAHASA INDONESIA
A. BAHASA MELAYU
Bahasa Melayu adalah bahasa penduduk Semenanjung Malaka, kepulauan Riau Lingga, sebagian besar pesisir timur Sumatra dan juga sebagian pesisir barat Kalimantan[1]. Dan mencakup sejumlah bahasa yang saling bermiripan diwilayah nusantara dan beberapa tempat lain, sebagai bahasa yang luas pemakaiannya, bahasa ini menjadi bahasa resmi di Brunei, Indonesia, dan Malaysia, serta diakui pula disingapore dan menjadi bahasa kerja di Timur Leste (sekarang bahasa Indonesia).[2]
Dalam pembahasan yang historis mengenai bahasa melayu ayatrohaedi menampilkan kapan kira kira bahasa melayu bahasa malayu ada dan hadir dikawasan yang sekarang dikenal sebagai kawasan suku bangsa melayu.
1. Sejarah Bahasa melayu
Bahasa Melayu termasuk kedalam bahasa melayu Polinesia dibawah rumpun bahasa Austronesia. Menurut statistik penggunaan bahasa didunia penutur bahasa Melayu diperkirakan mencapai lebih kurang 250 juta jiwa yang merupakan bahasa ke empat dalam urutan jumlah penutur terpenting bagi bahasa didunia.

Ahli bahasa membagi perkembangan bahasa melayu kedalam  tiga tahap utama yaitu:
a. Bahasa Melayu Kuno (abad ke-7 sampai abad ke-14)
Catatan tertulis pertama dalam bahasa melayu kuno berasal dari abad ke-7 masehi dan tercantum pada beberapa prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya dibagian selatan sumatera dan Wangsa syailendra dibeberapa tempat dijawa tengah, tulisan ini menggunakan aksara pallawa.
Bahasa melayu kuno masih digunakan untuk prasasti dan batu nisan sampai abad ke-14. Batu nisan orang Islam ditemukan pada masa  kerajaan Perlak, dengan  adanya hal itu maka memperkuat pendapat bahwa penyebaran Islam didunia pertuturan  bahasa melayu.[3]
b. Bahasa  Melayu Klasik (Abad ke-15)
Kira-kira abad ke-15 tradisi menuliskan pesan atau laporan di atas batu tampaknya sudah mulai ditinggalkan. Dengan berakhirnya masa penulisan di atas batu atau lempengan logam seperti emas dan tembaga, maka sumber sejarah tertulis beralih ke lontar atau kertas.
Kedatangan orang-orang Eropa ke Indonesia sedikit banyak menyebarkan pemakaian Bahasa Melayu. Orang-orang Portugis yang mula-mula datang ke Indonesia, baik untuk keperluan dagang maupun untuk keperluan penyebaran agama Katolik, memakai Bahasa Melayu sebagai bahasa perantara pada waktu mereka berhubungan dengan pembesar-pembesar di Indonesia. Salah seorang di anatra mereka, Antonio Pigafetta, seorang ahli etnografi, pada tahun 1521 pernah datang ke Tidore ikut berlayar bersama Magellan. Dia sempat menyusun daftar kata atau kamus dwi bahasa Melayu-Portugis yang terdiri atas kira-kira 500 kata. Bahasa Melayu yang dibawa oleh orang Portugis ke kepulauan Maluku adalah Bahasa Melayu Malaka.
Demikian juga halnya orang Belanda yang datang ke Indonesia menggantikan orangPortugis. Mereka memakai Bahasa Melayu di dalam urusan perdagangan dan kebudayaan (pendidikan dan administrasi), termasuk penyebaran agama Protestan. Bahasa Melayu yang mereka pakai adalah Bahasa Melayu Riau.dari sumber-sumber tertulis yang ada dapat kita ketahui bahwa pemakaian Bahasa Melayu sudah tersebar dari Johor, Malaka, Indonesia bagian barat sampai Indonesia bagian Timur (Maluku). Berbeda dengan Bahasa Melayu Kuno yang banyak terpengaruh oleh Bahasa Sansekerta, Bahasa Melayu pada abad ke-16 dan sesudahnya banyak memperlihatkan pengaruh Bahasa Arab yang masuk ke Indonesia pada abad ke-13 bersama-sama dengan masuknya agama Islam. Demikianlah, Bahasa Melayu sudah mulai dipakai secara internasional dalam arti dipakai sebagai alat komunikasi atara pembesar-pembesar kerajaan-kerajaan di Indonesia dengan orang-orang asing[4].
c. Bahasa Melayu Modern (Sejak Abad ke-20)
Pengajaran bahasa Melayu di sekolah-sekolah sejak awal abad ke-20 semakin membuat popular bahasa ini.
Di Indonesia, pendirian Balai Poestaka (1901) sebagai percetakan buku-buku pelajaran dan sastra mengantarkan kepopuleran bahasa Melayu dan bahkan membentuk suatu varian bahasa tersendiri yang mulai berbeda dari induknya, bahasa Melayu Riau. Kalangan peneliti sejarah bahasa Indonesia masa kini menjulukinya “bahasa Melayu Balai Pustaka” atau “bahasa Melayu Van Ophuijsen”[5]. Van Ophuijsen adalah orang yang pada tahun 1901 menyusun ejaan bahasa Melayu dengan huruf latin untuk penggunan di Hinda-Belanda. Ia juga menjadi penyunting berbagai buku sastra terbitan Balai Pustaka. Dalam masa 20 tahun berikutnya, “bahasa Melayu Van Ophuijsen” ini kemudian dikenal luas kalangan orang-0orang pribumi dan mulai dianaggap menjadi identitas kebangsaan Indonesia. Puncaknya adalah ketika dalam Kongres Pemuda II (28 Oktober 1928) dengan jelas dinyatakan, “menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Sejak saat itulah bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa kebangsaan[6].
Pemeliharaan bahasa Melayu (bahasa Melayu Riau) terjaga akibat meluasnya penggunaan bahasa ini dalam kehidupan sehari-hari. Sikap orang Belanda yang pada waktu itu tidak suka apabila orang pribumi menggunakan bahasa Belanda juga menyebabkan bahasa Melayu menjadi semakin popular.
2. Bahasa Melayu Riau
Bahasa Melayu merupakan bahasa resmi dikerajaan Riau, dan bahwa bahasa itu telah dibina oleh Raja Ali Haji dan kawan-kawannya sedemikian rupa, sehingga menjadi bahasa itu menjadi bahasa yang baik dan indah. Jika zaman Malaka dan Johor dapat dipandang  sebagai tahap penyebaran dan perluasan daerah bahasa melayu, sehingga berhasil menjadi bahasa yang dominan, maka zaman Raja Ali Haji dalam kerajaan Riau adalah zaman pembinaan bahasa melayu.
Untuk pembinaan dan member pembakuan kepada bahasa melayu Riau. Ali Haji menulis buku Bustanul Katibin tahun 1857, yng isinya mencakup ilmu bahasa dan ejaan. Karena jasa Ali Haji  pantas mendapat penghargaan yang semestinya, bukan hanya sekedar pembinaan dibidang tata bahasa saja, usaha Ali Haji  diapun membuat semacam kamus yaitu buku pengetahuan bahasa yang oleh Zuber Usman dapat disebut sebagai Ensiklopedi Melayu.
Rupanya dalam zaman kerajaan Riau itu bukan hanya pembinaan bahasa melayu saja, bahkan pembinaan ilmu pengetahuan lainnya pun tidak diabaikan[7].
B. BAHASA INDONESIA
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi republik Indonesia dan bahasa persatuan Indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah  proklamasi kemerdekaan  Indonesia, tepatnya sehari sesudah  bersamaan dengan dimulai berlakunya konstitusi diTimur Leste bahasa Indonesia berposisi sebagai bahasa kerja.
Meskipun dipahami dan dituturkan oleh lebih dari 90% warga Indonesia, bahasa Indonesia menggunakan salah satu dari 748 bahasa yang ada diindonesia dan sebagai bahasa ibu[8].
1. Sumber Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia dalam perkembangannya dewasa ini telah berubah arah sampai dengan tahun 60-an bahasa Indonesia berkembang dengan memanfaatkan sumber bahasa Melayu Riau. Perobahan arah itu berhubungan dengan perobahan orientasi sumber pengembangannya karena peranan dari bahasa daerah lain.
2. Peresmian Nama Bahasa Indonesia
Secara Sosiologi, bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai bahasa nasional pada saat Sumpah Pemuda tanggal 28 oktober 1928, hal ini juga sesuai dengan butir ketiga ikrar Sumpah Pemuda yaitu “ Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa indonesia”. Namun secara yuridis bahwa bahasa Indonesia diakui pada tanggal 18 agustus 1945 atau setelah kemerdekaan Indonesia.
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa bahasa Indonesia awalnya dari bahasa melayu. Ada faktor yang menyebabkan bahasa melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia yaitu:
a.   Bahasa Melayu sudah merupakan Lingua Franca diindonesia, bahasa perhubungan dan bahasa perdagangan
b.   Sistem bahasa melayu sederhana, mudah dipelajari karena dalam bahasa melayu tidak dikenal adanya tingkatan bahasa.
c.   Suku Jawa, suku Sunda dan suku lainnya dengan suka rela menerima bahasa melayu menjadi bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional.
d.   Bahasa melayu mempunyai kesanggupan untuk dipakai sebagai bahasa kebudayaan.
3. Peristiwa Penting Yang Berkaitan dengan Bahasa Indonesia
a. Tahun 1808 disusunlah ejaan resmi bahasa melayu Ch. A. Van Ophuisen yang dibantu oleh Nawawi Soetan Makmoer dan Moehammad Raib Soedan Ibrahim. Ejaan ini dimuat dalam kitab logat melayu.
b. Tahun 1908 pemerintah colonial mendirikan sebuah badan penerbit buku bacaan yang diberi nama Commisie Voor De Volkstlectur, yang kemudian pada tahun 1917 diubah menjadi Balai Pustaka, badan penerbit ini menerbitkan novel penuntun seperti Siti Nurbaya dan salah Asuhan.
c. Tanggal 16 juni 1927 Jahja Datoek Kayo menggunakan bahasa Indonesia dalam pidatonya dalam sidang rakyat.
d. Tanggal 28 0ktober 1928 secara resmi pengokohan bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan.
e. Tahun 1933 berdiri sebuah angkatan sastrawan muda yang menamakan dirinya sebagai pujangga baru.
f. Tahun 1936 Sultan Takdir Alisyabana menyusun Tata bahasa baru bahasa Indonesia.
g. Tanggal 25-28 juni 1938 dilangsungkan kongres bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara.
h. Tanggal 28 oktober-2 November 1954 diselenggarakan kongres bahasa Indonesia kedua diMedan. Pada tanggal 28-oktober-2 november 1978 diselenggarakan kongres bahasa Indonesia ketiga dijakarta. Dan pada tanggal 21-26 november 1983 diselenggarakan kongres bahasa Indonesia keempat diJakarta.
i. Tanggal 28 oktober – 3 November 1988 diselenggarakan kongres bahasa Indonesia kelima diJakarta, dihadiri oleh kira-kira 700 pakar bahasa Indonesia dari seluruh Indonesia dan peserta tamu Negara sahabat seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman dan Australia.
j. Tanggal 28 oktober – 2 november 1993 diselenggarakan kongres bahasa Indonesia  keenam diJakarta, pesertanya sebanyak 770 pakar bahasa Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Honkong, India, Italia, Jepang Rusia, dan AS, kongres mengusulkan agara pusat pembinaan dan pengembangan bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa Indonesia (LBI)
k. Tanggal 26-30 oktober 1988 diselenggarakan kongres bahasa Indonesia ketujuh di Hotel Indonesia Jakarta. Kongres itu mengusulkan dibentuknya badan pertimbangan bahasa.
4. Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia
a. Kedudukan bahasa Indonesia
·         Sebagai bahasa nasional
·         Sebagai bahasa Negara
b. Fungsi bahasa Indonesia
·         Lambang kebangsaan
·         Lambang identitas nasional
·         Alat penghubung antar warga, antar daerah dan antar budaya.
C. Perkembangan Bahasa Melayu ke Bahasa Indonesia.
Bahasa adalah yang terpadu dengan unsur-unsur lain didalam jaringan kebudayaan. Pada waktu yang sama, bahasa merupakan sarana pengungkapan nilai-nilai budaya. Pikiran dan nilai-nilai kehidupan kemasyarakatan. Perkembangan kebudayaan Indonesia kearah peradaban modern sejalan dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut adanya perkembangan cara berpikir yang ditandai oleh kecermatan, ketepatan, dan kesanggupan menyatakan isi pikiran secara eksplisit.
Ketika bahasa Indonesia dinyatakan sebagai bahasa nasional pada tahun 1982), maka hal itu tidak lebih daripada cita-cita. Pada waktu itu belum banyak dari para pejuang yang menginginkan kemerdekaan Indonesia dan menggunakan bahasa Indonesia dalam bahasa politik mereka. Diantaranya bahkan ada yang tidak setuju jika bahasa Melayu itu disebut sebagai bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia yang sekarang ini ialah bahasa Melayu Kuno yang dahulu digunakan orang melayu di Riau, Johor dan Lingga, yang telah mengalami perkembangan berabad-abad lamanya. Dalam keputusan seksi A no.8 Hasil kongres Bahasa Indonesia II di Medan tahun 1954 dikatakan bahwa dasar bahasa Indonesia adalah Bahasa Melayu yang disesuaikan dengan pertumbuhan dalam masyarakat dan kebudayaan Indonesia sekarang. Sehubungan dengan perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, ada beberapa masa dan tahun bersejarah yang penting, yakni:
1.  Masa kerajaan Sriwijaya sekitar abad ke-7. Pada waktu itu masih bernama bahasa Melayu telah digunakan sebagai linguange france atau bahasa penghubung, bahasa pengantar. Bukti historis masa ini yaitu ditemukannya prasasti dan batu bertuli.
2.  Masa kerajaan Malaka, sekitar abad ke-15. Peninggalan karya Tun Muhammad Sri Lanang adalah peninggalan karya sastra tertulis. Tahun 1521, Antonio Pigafetta menyusun daftar kata Italy-Melayu yang pertama.
3.  Masa Abdullah bin Abdul Kadir, sekitar abad ke-19. Fungsi bahasa melayu sebagai sarana pengungkap nilai-nilai etetika. Terlihat dari karya Abdullah seperti Hikayat Abdullah, kisah pelayaran Abdullah dan lainnya.
4.  Tahun 1901 diadakan pembukuan ejaan yang pertama kali oleh Prof. Ch, Van Ophuysen dibantu Engku Nawawi dan Moh.Taib Sultan Ibrahim yang dikenal dengan ejaan Van Ophuysen ditulis dalam buku yang berjudul Kitab Logat Melajoe.
5.  Tahun 1908 Pemerintah Belanda mendirikan Commisie de Indllandssche Volksletuur (komisi Bacaan Sekolah Bumi Putra dan Rakyat)

D. Bahasa Melayu Menjadi Bahasa Indonesia
Bahasa melayu dipakai dimana-mana diwilayah nusantara serta makin berkembang dengan dan bertambah kukuh keberadaannya. Bahasa melayu yang dipakai didaerah-daerah diwilayah nusantara dalam pertumbuhan dipengaruhi oleh corak budaya daerah. Bahasa melayu menyerap kosa kata dari berbagai bahasa, terutama dari bahasa sanskerta, bahasa Persia, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa Eropa. Misalnya: kata “Pejabat Pos” dikenali sebagai “Kantor Pos” di Indonesia. Perkataan ini berasal dari perkataan Belanda “Kantoor” untuk “pejabat” ketika zaman penjajahan, ma’moer, ta’, jang, pajah, goerae,itoe.
Bahasa melayupun dalam perkembangannya muncul dalam berbagai variasi dan dialek. Perkembangan bahasa melayu diwilayah nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Komunikasi rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Komunikasi antar perkumpulan yang bangkit pada masa itu menggunakan bahasa melayu menjadi bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia dalam sumpah pemuda 28 Oktober 1928.
Untuk memperoleh bahasa nasionalnya, Bangsa Indonesia harus berjuang dalam waktu yang cukup panjang dan penuh dengan tantangan. Perjuagan demikian harus dilakukan karena adanya kesadaran bahwa disamping fungsinya sebagai alat komunikasi tunggal, bahasa nasional sebagai salah satu ciri kultural, yang kedalam menunjukkan sesatuan dan keluar menyatakan perbedaan dengan bangsa lain.
Alasan dipilihnya bahasa Melayu menjadi bahasa nasional ini didasarkan pada kenyataannya bahasa tersebut:
1. Mewakili bahasa yang dipakai oleh kelompok kecil yang dibandingkan oleh kelompok besar seperti bahasa jawa. Hal ini untuk menghindari adanya tanggapan pengistimewaan yang berlebihan terhadap bahasa jawa.
2. Lebih bersifat linguistik dan tidak memiliki tingkat tutur yang sulit.
3. Mempunyai sejarah sebagai “Lingua France” yang digunakan pada masa kerajaan sriwijaya mengalami kemajuan /masa kejayaan.
4. Telah dimengerti dan dipergunakan selama berabad-abad sebagai Linguage france hampir diseluruh daerah kawasan nusantara.
5. Struktur sederhana sehingga mudah dipelajari dan menerima pengaruh luar untuk memperkaya serta menyempurnakan fungsinya.
6. Bersifat demokratis sehingga menghindarkan kemungkinan timbulnya perasaan sentiment dan perpecahan.
7. Adanya semangat kebangsaan yang lebih besar daripada menuturkan bahasa Jawa dan Sunda
Tahun 1928 tepatnya tanggal 28 oktober dalam Sumpah Pemuda, bahasa Melayu di wisuda menjadi bahasa Nasional bangsa Indonesia sekaligus namanya diganti menjadi bahasa Inonesia.

E. Keistimewaan Bahasa Melayu
Bahasa Indonesia dalam perkembangannya dewasa ini telah berubah arah sampai dengan tahun 60-an bahasa Indonesia berkembang dengan memanfaatkan sumber bahasa Melayu Riau. Hal ini merupakan akibat dari kenyataan bahwa para Pembina yang aktif adalah para penulis dan redaktur balai pustaka bahasa Melayu.
Bahasa Melayu memang sangat istimewa dibanding bahasa lainnya. Keistimewaan bahasa Melayu itu di antaranya:
1.  Tanda peradaban nusantara
2.  Merupakan bahasa terindah didunia dan urutan kedua setelah bahasa Perancis pada dunia
3.  Mudah dipahami dan dimengerti
4.  Telah dipakai secara luas di daerah nusantara
5.  Bahasa Melayu dijadikan komunikasi di setiap bidang kehidupan
6.  Telah lama dikenal  oleh nusantara dan dunia
7.  Telah mempunyai susunan dan kaedah yang sempurna
8.  Telah mempunyai dokumentasi
9.  Bahasa yang mampu terbuka terhadap perkembangan-perkembangan bahasa yang lain
10.Sudah tercampur aduk dengan bahasa yang lain
11.Tidak  mempunyai bahasa tingkatan yang lain
12.Dipakai sebagai pengembangan ilmu pengetahuan
13.Dijadikan bahasa penghubung dan perdagangan




BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
     Bahasa Melayu adalah bahasa penduduk semenanjung Malaka, kepulauan Riau Lingga, sebagian besar pesisir timur sumatera dan pesisir barat Kalimantan. Bahasa Melayu termasuk bahasa melayu polinesia dibawah rumpun bahasa austranesia.
     Ahli bahasa membagi perkembangan bahasa Melayu kedalam tiga tahap utama yaitu:
1.  Bahasa Melayu kuno (abad ke-7 sampai abad ke-14)
2.  Bahasa Melayu klasik (abad ke15 sampai abad ke 20)
3.  Bahasa Melayu Modern (sejak abad ke 20)
     Bahasa Melayu Riau dibina oleh Raja Ali Haji dan kawan-kawannya sedemikian rupa sehingga menjadi bahasa yang baik dan indah.
     Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi republic Indonesia dan bahasa persatuan Indonesia.
     Sumber bahasa Indonesia diperoleh dengan memanfaatkan sumber bahasa Melayu Riau (peranan dari bahasa daerah lain diindonesia. Peresmian nama bahasa Indonesia pada waktu Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928.
     Peristiwa penting yang berkenaan dengan bahasa Indonesia yaitu tahun 1801 disusunlah ejaan resmi bahasa Melayu, pengokohan bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan, berdirinya angkatan sastrawan muda, dan berdirinya beberapa kongres bahasa Indonesia.
     Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa Negara.
     Fungsinya untuk lambing kebangsaan, lambang identitas nasional, alat penghubung dan alat yang memungkinkan penyatuan.



















DAFTAR PUSTAKA
E.K.M Masinambow dan Paul Haenen. 2002 Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah. (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia Anggota IKAPI DKI Jakarta.
http: // id. Wikipidea. Org/wiki/bahasa melayu cite-note-sastra 6.
James T. Collins, Bahasa Melayu Dunia, Pentr. Alma Evita Almanar (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia).
James T. Collins. 2005, Bahasa Melayu Bahasa Dunia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Masinambaw, paul Henan. 2002, Bahasa Indonesia dan Bahasa Dunia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Spat, 1989, Bahasa Melayu Tata Bahasa Selayang Pandang, Jakarta: Balai Pustaka,






[1] Spat, Bahasa Melayu Tata Bahasa Selayang Pandang, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), hlm. 5
[2]  http: // id. Wikipidea. Org/wiki/bahasa melayu cite-note-sastra 6.
[3] James T. Collins. Bahasa Melayu Bahasa Dunia, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005), hlm. 12.
[4] E.K.M Masinambow dan Paul Haenen. Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah. (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia Anggota IKAPI DKI Jakarta, 2002). Hal.21
[6] James T. Collins, Bahasa Melayu Dunia, Pentr. Alma Evita Almanar (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia). Hal. 1
[7] Muchtar Lutfi, dkk. Op. cit., hlm. 806.
[8] Masinambaw, paul Henan. Bahasa Indonesia dan Bahasa Dunia. (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2002), hlm. 39.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar