BAB II
PEMBAHASAN
BAHASA MELAYU DAN BAHASA INDONESIA
A. BAHASA MELAYU
Bahasa
Melayu adalah bahasa penduduk Semenanjung Malaka, kepulauan Riau Lingga,
sebagian besar pesisir timur Sumatra dan juga sebagian pesisir barat Kalimantan[1]. Dan mencakup sejumlah bahasa yang saling bermiripan
diwilayah nusantara dan beberapa tempat lain, sebagai bahasa yang luas
pemakaiannya, bahasa ini menjadi bahasa resmi di Brunei, Indonesia, dan
Malaysia, serta diakui pula disingapore dan menjadi bahasa kerja di Timur Leste
(sekarang bahasa Indonesia).[2]
Dalam pembahasan yang historis mengenai
bahasa melayu ayatrohaedi menampilkan kapan kira kira bahasa melayu bahasa
malayu ada dan hadir dikawasan yang sekarang dikenal sebagai kawasan suku
bangsa melayu.
1. Sejarah
Bahasa melayu
Bahasa Melayu termasuk kedalam bahasa melayu Polinesia
dibawah rumpun bahasa Austronesia. Menurut statistik penggunaan bahasa didunia
penutur bahasa Melayu diperkirakan mencapai lebih kurang 250 juta jiwa yang
merupakan bahasa ke empat dalam urutan jumlah penutur terpenting bagi bahasa
didunia.
Ahli bahasa membagi perkembangan bahasa melayu kedalam tiga tahap utama yaitu:
a. Bahasa Melayu Kuno (abad ke-7 sampai abad ke-14)
Catatan tertulis pertama dalam bahasa
melayu kuno berasal dari abad ke-7 masehi dan tercantum pada beberapa prasasti
peninggalan kerajaan Sriwijaya dibagian selatan sumatera dan Wangsa syailendra
dibeberapa tempat dijawa tengah, tulisan ini menggunakan aksara pallawa.
Bahasa melayu kuno masih digunakan
untuk prasasti dan batu nisan sampai abad ke-14. Batu
nisan orang Islam ditemukan pada masa
kerajaan Perlak, dengan adanya
hal itu maka memperkuat pendapat bahwa penyebaran Islam didunia pertuturan bahasa melayu.[3]
b. Bahasa Melayu Klasik (Abad
ke-15)
Kira-kira
abad ke-15 tradisi menuliskan pesan atau laporan di atas batu tampaknya
sudah mulai ditinggalkan. Dengan berakhirnya masa penulisan di atas batu atau
lempengan logam seperti emas dan tembaga, maka sumber sejarah tertulis beralih
ke lontar atau kertas.
Kedatangan
orang-orang Eropa ke Indonesia sedikit banyak menyebarkan pemakaian Bahasa
Melayu. Orang-orang Portugis yang mula-mula datang ke Indonesia, baik untuk
keperluan dagang maupun untuk keperluan penyebaran agama Katolik, memakai
Bahasa Melayu sebagai bahasa perantara pada waktu mereka berhubungan dengan
pembesar-pembesar di Indonesia. Salah seorang di anatra mereka, Antonio
Pigafetta, seorang ahli etnografi, pada tahun 1521 pernah datang ke Tidore ikut
berlayar bersama Magellan. Dia sempat menyusun daftar kata atau kamus dwi
bahasa Melayu-Portugis yang terdiri atas kira-kira 500 kata. Bahasa Melayu yang
dibawa oleh orang Portugis ke kepulauan Maluku adalah Bahasa Melayu Malaka.
Demikian
juga halnya orang Belanda yang datang ke Indonesia menggantikan orangPortugis.
Mereka memakai Bahasa Melayu di dalam urusan perdagangan dan kebudayaan
(pendidikan dan administrasi), termasuk penyebaran agama Protestan. Bahasa
Melayu yang mereka pakai adalah Bahasa Melayu Riau.dari sumber-sumber tertulis
yang ada dapat kita ketahui bahwa pemakaian Bahasa Melayu sudah tersebar dari
Johor, Malaka, Indonesia bagian barat sampai Indonesia bagian Timur (Maluku).
Berbeda dengan Bahasa Melayu Kuno yang banyak terpengaruh oleh Bahasa
Sansekerta, Bahasa Melayu pada abad ke-16 dan sesudahnya banyak memperlihatkan
pengaruh Bahasa Arab yang masuk ke Indonesia pada abad ke-13 bersama-sama
dengan masuknya agama Islam. Demikianlah, Bahasa Melayu sudah mulai dipakai
secara internasional dalam arti dipakai sebagai alat komunikasi atara
pembesar-pembesar kerajaan-kerajaan di Indonesia dengan orang-orang asing[4].
c. Bahasa Melayu Modern (Sejak Abad
ke-20)
Pengajaran
bahasa Melayu di sekolah-sekolah sejak awal abad ke-20 semakin membuat popular
bahasa ini.
Di
Indonesia, pendirian Balai Poestaka (1901) sebagai percetakan buku-buku
pelajaran dan sastra mengantarkan kepopuleran bahasa Melayu dan bahkan
membentuk suatu varian bahasa tersendiri yang mulai berbeda dari induknya,
bahasa Melayu Riau. Kalangan peneliti sejarah bahasa Indonesia masa kini
menjulukinya “bahasa Melayu Balai Pustaka” atau “bahasa Melayu Van Ophuijsen”[5]. Van Ophuijsen adalah orang yang pada tahun 1901 menyusun
ejaan bahasa Melayu dengan huruf latin untuk penggunan di Hinda-Belanda. Ia
juga menjadi penyunting berbagai buku sastra terbitan Balai Pustaka. Dalam masa
20 tahun berikutnya, “bahasa Melayu Van Ophuijsen” ini kemudian dikenal luas
kalangan orang-0orang pribumi dan mulai dianaggap menjadi identitas kebangsaan
Indonesia. Puncaknya adalah ketika dalam Kongres Pemuda II (28 Oktober 1928)
dengan jelas dinyatakan, “menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Sejak
saat itulah bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa kebangsaan[6].
Pemeliharaan bahasa Melayu (bahasa
Melayu Riau) terjaga akibat meluasnya penggunaan bahasa ini dalam kehidupan
sehari-hari. Sikap orang Belanda
yang pada waktu itu tidak suka apabila orang pribumi menggunakan bahasa Belanda
juga menyebabkan bahasa Melayu menjadi semakin popular.
2. Bahasa Melayu Riau
Bahasa Melayu merupakan bahasa resmi dikerajaan Riau, dan bahwa bahasa itu
telah dibina oleh Raja Ali Haji dan kawan-kawannya sedemikian rupa, sehingga
menjadi bahasa itu menjadi bahasa yang baik dan indah. Jika zaman Malaka dan
Johor dapat dipandang sebagai tahap penyebaran
dan perluasan daerah bahasa melayu, sehingga berhasil menjadi bahasa yang
dominan, maka zaman Raja Ali Haji dalam kerajaan Riau adalah zaman pembinaan
bahasa melayu.
Untuk pembinaan dan
member pembakuan kepada bahasa melayu Riau. Ali Haji menulis buku Bustanul
Katibin tahun 1857, yng isinya mencakup ilmu bahasa dan ejaan. Karena jasa Ali
Haji pantas mendapat penghargaan yang
semestinya, bukan hanya sekedar pembinaan dibidang tata bahasa saja, usaha Ali
Haji diapun membuat semacam kamus yaitu
buku pengetahuan bahasa yang oleh Zuber Usman dapat disebut sebagai Ensiklopedi
Melayu.
Rupanya dalam zaman kerajaan Riau itu bukan hanya pembinaan bahasa melayu
saja, bahkan pembinaan ilmu pengetahuan lainnya pun tidak diabaikan[7].
B. BAHASA
INDONESIA
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi
republik Indonesia dan bahasa persatuan Indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan
penggunaannya setelah proklamasi
kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudah bersamaan dengan dimulai berlakunya
konstitusi diTimur Leste bahasa Indonesia berposisi sebagai bahasa kerja.
Meskipun dipahami dan dituturkan
oleh lebih dari 90% warga Indonesia, bahasa Indonesia menggunakan salah satu
dari 748 bahasa yang ada diindonesia dan sebagai bahasa ibu[8].
1. Sumber
Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia dalam
perkembangannya dewasa ini telah berubah arah sampai dengan tahun 60-an bahasa
Indonesia berkembang dengan memanfaatkan sumber bahasa Melayu Riau. Perobahan
arah itu berhubungan dengan perobahan orientasi sumber pengembangannya karena
peranan dari bahasa daerah lain.
2. Peresmian Nama Bahasa Indonesia
Secara
Sosiologi, bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai bahasa nasional pada
saat Sumpah Pemuda tanggal 28 oktober 1928, hal ini juga sesuai dengan butir
ketiga ikrar Sumpah Pemuda yaitu “ Kami putra dan putri Indonesia menjunjung
bahasa persatuan, bahasa indonesia”. Namun secara yuridis bahwa bahasa
Indonesia diakui pada tanggal 18 agustus 1945 atau setelah kemerdekaan
Indonesia.
Sebagaimana
telah dijelaskan bahwa bahasa Indonesia awalnya dari bahasa melayu. Ada faktor yang menyebabkan bahasa melayu diangkat menjadi
bahasa Indonesia yaitu:
a.
Bahasa Melayu sudah merupakan Lingua
Franca diindonesia, bahasa perhubungan dan bahasa perdagangan
b.
Sistem bahasa melayu sederhana, mudah
dipelajari karena dalam bahasa melayu tidak dikenal adanya tingkatan bahasa.
c.
Suku Jawa, suku Sunda dan suku lainnya
dengan suka rela menerima bahasa melayu menjadi bahasa Indonesia menjadi bahasa
nasional.
d.
Bahasa melayu mempunyai kesanggupan
untuk dipakai sebagai bahasa kebudayaan.
3. Peristiwa
Penting Yang Berkaitan dengan Bahasa Indonesia
a.
Tahun 1808 disusunlah ejaan resmi
bahasa melayu Ch. A. Van Ophuisen yang dibantu oleh Nawawi Soetan Makmoer dan
Moehammad Raib Soedan Ibrahim. Ejaan ini dimuat dalam kitab logat melayu.
b.
Tahun 1908 pemerintah colonial
mendirikan sebuah badan penerbit buku bacaan yang diberi nama Commisie Voor De
Volkstlectur, yang kemudian pada tahun 1917 diubah menjadi Balai Pustaka, badan
penerbit ini menerbitkan novel penuntun seperti Siti Nurbaya dan salah Asuhan.
c.
Tanggal 16 juni 1927 Jahja Datoek Kayo
menggunakan bahasa Indonesia dalam pidatonya dalam sidang rakyat.
d.
Tanggal 28 0ktober 1928 secara resmi
pengokohan bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan.
e.
Tahun 1933 berdiri sebuah angkatan
sastrawan muda yang menamakan dirinya sebagai pujangga baru.
f.
Tahun 1936 Sultan Takdir Alisyabana
menyusun Tata bahasa baru bahasa Indonesia.
g.
Tanggal
25-28 juni 1938 dilangsungkan kongres bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara.
h.
Tanggal
28 oktober-2 November 1954 diselenggarakan kongres bahasa Indonesia kedua
diMedan. Pada tanggal 28-oktober-2 november 1978 diselenggarakan kongres bahasa
Indonesia ketiga dijakarta. Dan pada tanggal 21-26 november 1983
diselenggarakan kongres bahasa Indonesia keempat diJakarta.
i.
Tanggal
28 oktober – 3 November 1988 diselenggarakan kongres bahasa Indonesia kelima
diJakarta, dihadiri oleh kira-kira 700 pakar bahasa Indonesia dari seluruh
Indonesia dan peserta tamu Negara sahabat seperti Brunei Darussalam, Malaysia,
Singapura, Belanda, Jerman dan Australia.
j.
Tanggal
28 oktober – 2 november 1993 diselenggarakan kongres bahasa Indonesia keenam diJakarta, pesertanya sebanyak 770
pakar bahasa Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancanegara meliputi Australia,
Brunei Darussalam, Jerman, Honkong, India, Italia, Jepang Rusia, dan AS,
kongres mengusulkan agara pusat pembinaan dan pengembangan bahasa ditingkatkan
statusnya menjadi Lembaga Bahasa Indonesia (LBI)
k.
Tanggal
26-30 oktober 1988 diselenggarakan kongres bahasa Indonesia ketujuh di Hotel
Indonesia Jakarta. Kongres itu mengusulkan dibentuknya badan pertimbangan
bahasa.
4. Kedudukan
dan Fungsi Bahasa Indonesia
a.
Kedudukan
bahasa Indonesia
·
Sebagai
bahasa nasional
·
Sebagai
bahasa Negara
b.
Fungsi
bahasa Indonesia
·
Lambang
kebangsaan
·
Lambang
identitas nasional
·
Alat
penghubung antar warga, antar daerah dan antar budaya.
C. Perkembangan Bahasa
Melayu ke Bahasa Indonesia.
Bahasa adalah yang terpadu dengan unsur-unsur lain didalam jaringan
kebudayaan. Pada waktu yang sama, bahasa merupakan sarana pengungkapan
nilai-nilai budaya. Pikiran dan nilai-nilai kehidupan kemasyarakatan.
Perkembangan kebudayaan Indonesia kearah peradaban modern sejalan dengan
kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut adanya
perkembangan cara berpikir yang ditandai oleh kecermatan, ketepatan, dan
kesanggupan menyatakan isi pikiran secara eksplisit.
Ketika bahasa Indonesia dinyatakan sebagai bahasa nasional pada tahun
1982), maka hal itu tidak lebih daripada cita-cita. Pada waktu itu belum banyak dari para pejuang yang
menginginkan kemerdekaan Indonesia dan menggunakan bahasa Indonesia dalam
bahasa politik mereka. Diantaranya bahkan ada yang tidak setuju jika bahasa
Melayu itu disebut sebagai bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia yang sekarang ini ialah bahasa Melayu Kuno yang dahulu
digunakan orang melayu di Riau, Johor dan Lingga, yang telah mengalami
perkembangan berabad-abad lamanya. Dalam keputusan seksi A no.8 Hasil kongres
Bahasa Indonesia II di Medan tahun 1954 dikatakan bahwa dasar bahasa Indonesia
adalah Bahasa Melayu yang disesuaikan dengan pertumbuhan dalam masyarakat dan
kebudayaan Indonesia sekarang. Sehubungan dengan perkembangan bahasa Melayu
menjadi bahasa Indonesia, ada beberapa masa dan tahun bersejarah yang penting,
yakni:
1. Masa kerajaan Sriwijaya sekitar abad ke-7. Pada waktu itu masih bernama
bahasa Melayu telah digunakan sebagai linguange france atau bahasa penghubung,
bahasa pengantar. Bukti historis masa ini yaitu ditemukannya prasasti dan batu
bertuli.
2. Masa kerajaan Malaka, sekitar abad ke-15. Peninggalan karya Tun Muhammad
Sri Lanang adalah peninggalan karya sastra tertulis. Tahun 1521, Antonio
Pigafetta menyusun daftar kata Italy-Melayu yang pertama.
3. Masa Abdullah bin Abdul Kadir, sekitar abad ke-19. Fungsi bahasa melayu
sebagai sarana pengungkap nilai-nilai etetika. Terlihat dari karya Abdullah
seperti Hikayat Abdullah, kisah pelayaran Abdullah dan lainnya.
4. Tahun 1901 diadakan pembukuan ejaan yang pertama kali oleh Prof. Ch, Van
Ophuysen dibantu Engku Nawawi dan Moh.Taib Sultan Ibrahim yang dikenal dengan
ejaan Van Ophuysen ditulis dalam buku yang berjudul Kitab Logat Melajoe.
5. Tahun 1908 Pemerintah Belanda mendirikan Commisie de Indllandssche
Volksletuur (komisi Bacaan Sekolah Bumi Putra dan Rakyat)
D. Bahasa Melayu Menjadi Bahasa
Indonesia
Bahasa melayu dipakai dimana-mana diwilayah nusantara serta makin
berkembang dengan dan bertambah kukuh keberadaannya. Bahasa melayu yang dipakai
didaerah-daerah diwilayah nusantara dalam pertumbuhan dipengaruhi oleh corak
budaya daerah. Bahasa melayu menyerap kosa kata dari berbagai bahasa, terutama
dari bahasa sanskerta, bahasa Persia, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa Eropa.
Misalnya: kata “Pejabat Pos” dikenali sebagai “Kantor Pos” di Indonesia.
Perkataan ini berasal dari perkataan Belanda “Kantoor” untuk “pejabat” ketika
zaman penjajahan, ma’moer, ta’, jang, pajah, goerae,itoe.
Bahasa melayupun dalam perkembangannya muncul dalam berbagai variasi dan
dialek. Perkembangan bahasa melayu diwilayah nusantara mempengaruhi dan
mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia.
Komunikasi rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Komunikasi antar
perkumpulan yang bangkit pada masa itu menggunakan bahasa melayu menjadi bahasa
Indonesia, yang menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia dalam
sumpah pemuda 28 Oktober 1928.
Untuk memperoleh bahasa nasionalnya, Bangsa Indonesia harus berjuang dalam
waktu yang cukup panjang dan penuh dengan tantangan. Perjuagan demikian harus
dilakukan karena adanya kesadaran bahwa disamping fungsinya sebagai alat
komunikasi tunggal, bahasa nasional sebagai salah satu ciri kultural, yang
kedalam menunjukkan sesatuan dan keluar menyatakan perbedaan dengan bangsa
lain.
Alasan dipilihnya bahasa Melayu menjadi bahasa nasional ini didasarkan pada kenyataannya bahasa
tersebut:
1. Mewakili bahasa yang dipakai oleh kelompok kecil yang dibandingkan oleh
kelompok besar seperti bahasa jawa. Hal ini untuk menghindari adanya tanggapan
pengistimewaan yang berlebihan terhadap bahasa jawa.
2. Lebih bersifat linguistik dan tidak memiliki tingkat tutur yang sulit.
3. Mempunyai sejarah sebagai “Lingua France” yang digunakan pada masa kerajaan
sriwijaya mengalami kemajuan /masa kejayaan.
4. Telah dimengerti dan dipergunakan selama berabad-abad sebagai Linguage
france hampir diseluruh daerah kawasan nusantara.
5. Struktur sederhana sehingga mudah dipelajari dan menerima pengaruh luar
untuk memperkaya serta menyempurnakan fungsinya.
6. Bersifat demokratis sehingga menghindarkan kemungkinan timbulnya perasaan
sentiment dan perpecahan.
7. Adanya semangat kebangsaan yang lebih besar daripada menuturkan bahasa Jawa
dan Sunda
Tahun 1928 tepatnya tanggal 28 oktober dalam Sumpah Pemuda, bahasa Melayu
di wisuda menjadi bahasa Nasional bangsa Indonesia sekaligus namanya diganti
menjadi bahasa Inonesia.
E. Keistimewaan Bahasa
Melayu
Bahasa Indonesia dalam
perkembangannya dewasa ini telah berubah arah sampai dengan tahun 60-an bahasa
Indonesia berkembang dengan memanfaatkan sumber bahasa Melayu Riau. Hal ini
merupakan akibat dari kenyataan bahwa para Pembina yang aktif adalah para
penulis dan redaktur balai pustaka bahasa Melayu.
Bahasa Melayu memang
sangat istimewa dibanding bahasa lainnya. Keistimewaan bahasa Melayu itu di
antaranya:
1. Tanda peradaban nusantara
2. Merupakan bahasa terindah didunia
dan urutan kedua setelah bahasa Perancis pada dunia
3. Mudah dipahami dan dimengerti
4. Telah dipakai secara luas di daerah
nusantara
5. Bahasa Melayu dijadikan komunikasi di setiap bidang kehidupan
6. Telah lama dikenal oleh
nusantara dan dunia
7. Telah mempunyai susunan dan kaedah yang
sempurna
8. Telah mempunyai dokumentasi
9. Bahasa yang mampu terbuka terhadap
perkembangan-perkembangan bahasa yang lain
10.Sudah tercampur aduk dengan bahasa yang lain
11.Tidak mempunyai bahasa tingkatan yang lain
12.Dipakai sebagai pengembangan ilmu pengetahuan
13.Dijadikan bahasa penghubung dan perdagangan
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bahasa
Melayu adalah bahasa penduduk semenanjung Malaka, kepulauan Riau Lingga,
sebagian besar pesisir timur sumatera dan pesisir barat Kalimantan. Bahasa Melayu termasuk
bahasa melayu polinesia dibawah rumpun bahasa austranesia.
Ahli bahasa membagi perkembangan bahasa
Melayu kedalam tiga tahap utama yaitu:
1. Bahasa Melayu kuno (abad ke-7 sampai
abad ke-14)
2. Bahasa Melayu klasik (abad ke15
sampai abad ke 20)
3. Bahasa Melayu Modern (sejak abad ke 20)
Bahasa Melayu
Riau dibina oleh Raja Ali Haji dan kawan-kawannya sedemikian rupa sehingga
menjadi bahasa yang baik dan indah.
Bahasa
Indonesia adalah bahasa resmi republic Indonesia dan bahasa persatuan
Indonesia.
Sumber bahasa Indonesia diperoleh dengan memanfaatkan sumber
bahasa Melayu Riau (peranan dari bahasa daerah lain diindonesia. Peresmian nama
bahasa Indonesia pada waktu Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928.
Peristiwa
penting yang berkenaan dengan bahasa Indonesia yaitu tahun 1801 disusunlah
ejaan resmi bahasa Melayu, pengokohan bahasa Indonesia menjadi bahasa
persatuan, berdirinya angkatan sastrawan muda, dan berdirinya beberapa kongres
bahasa Indonesia.
Kedudukan
bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa Negara.
Fungsinya untuk lambing kebangsaan, lambang identitas
nasional, alat penghubung dan alat yang memungkinkan penyatuan.
DAFTAR PUSTAKA
E.K.M
Masinambow dan Paul Haenen. 2002 Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah.
(Jakarta: Yayasan Obor Indonesia Anggota IKAPI DKI Jakarta.
http: // id.
Wikipidea. Org/wiki/bahasa melayu cite-note-sastra 6.
James T. Collins, Bahasa Melayu Dunia, Pentr.
Alma Evita Almanar (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia).
James T. Collins. 2005, Bahasa Melayu Bahasa Dunia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Masinambaw,
paul Henan. 2002, Bahasa Indonesia dan Bahasa Dunia. Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia.
Spat,
1989, Bahasa
Melayu Tata Bahasa Selayang Pandang, Jakarta: Balai Pustaka,
[4] E.K.M Masinambow dan Paul Haenen. Bahasa
Indonesia dan Bahasa Daerah. (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia Anggota IKAPI
DKI Jakarta, 2002). Hal.21
[6] James T. Collins, Bahasa Melayu Dunia, Pentr.
Alma Evita Almanar (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia). Hal. 1
[8] Masinambaw, paul Henan. Bahasa Indonesia dan Bahasa Dunia. (Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia, 2002), hlm. 39.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar